PADA malam ketiga setelah Mariyani menghilang dari hidupku, aku akhirnya memutuskan menelepon Andre kembali.
Suara hujan turun pelan di luar kamar kosku.
Kamera tergeletak di meja tanpa kusentuh seharian.
Dan entah kenapa, aku merasa lelah terus-menerus menjadi seseorang yang takut melangkah.
Andre mengangkat telepon di dering kedua.
“Tumben.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Kalau tawarannya masih ada… aku ikut.”
Beberapa detik hening.
Lalu Andre tertawa lega.
“Nah gitu, Wan. Ini baru lu yang gue kenal.”
Aku tidak ikut tertawa.
Karena sebenarnya aku sendiri tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak.
Yang kutahu hanya satu.
Mariyani benar.
Aku tidak bisa terus bersembunyi di balik kata “tenang” hanya karena takut jatuh lagi.
Kadang hidup memang meminta kita kembali ke tempat yang pernah menghancurkan kita untuk membuktikan bahwa kita tidak lagi sama.
Malam itu aku mengirim pesan pada Mariyani.
Aku terima tawaran dari Jakarta.
Centang dua.
Beberapa menit kemudian berubah biru.
Dibaca.
Tapi tetap tidak ada balasan.
Aku menatap layar ponsel cukup lama.
Lalu mengetik lagi.
Aku berangkat besok sore naik Gajayana.
Dibaca.
Tetap sunyi.
Aku tertawa kecil sendiri. Tawa yang pahit.
Perempuan itu benar-benar keras kepala kalau sedang marah.
Keesokan harinya, Kediri terasa mendung sejak pagi.
Aku menghabiskan waktu berjalan sendiri menyusuri Jalan Stasiun untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Jakarta.
Jalan itu ramai seperti biasa.
Lampu-lampu klasik masih berdiri cantik di sepanjang trotoar. Orang-orang duduk di bangku besi sambil minum kopi. Beberapa wisatawan sibuk berfoto dengan mural dan taman kecil yang kini menjadi ikon baru kota.
Aku berhenti cukup lama di depan jalan itu.
Tempat ini terasa aneh.
Karena di sinilah aku pertama kali merasa hidupku belum benar-benar selesai.
Di sinilah aku menemukan Mariyani kembali.
Dan di sinilah, tanpa sadar, aku mulai belajar memaafkan diriku sendiri.
Sore menjelang ketika aku tiba di stasiun.
Langit berwarna abu-abu kebiruan. Pengumuman keberangkatan terdengar bersahut-sahutan dari pengeras suara.
Kereta Api Gajayana sudah terparkir di jalurnya dengan lampu-lampu kabin yang mulai menyala hangat.
Aku membawa satu koper sedang dan tas kamera yang selalu menemaniku.
Tidak banyak.
Karena sebagian besar hidupku memang sudah hilang lebih dulu di Jakarta.
Aku berdiri cukup lama di dekat pintu keberangkatan sambil memandangi orang-orang.
Ada anak kecil menangis karena tidak ingin ditinggal ayahnya.
Ada pasangan muda saling menggenggam tangan.
Ada seorang ibu yang terus memberi pesan pada anaknya yang hendak merantau.
Dan tiba-tiba aku merasa takut lagi.
Takut Jakarta akan menarikku kembali menjadi manusia yang dulu.
Takut kehilangan diriku sendiri sekali lagi.
Takut kehilangan Mariyani.
Pengeras suara mulai memanggil penumpang untuk naik.
Aku menarik napas panjang.
Lalu berbalik perlahan ke arah Jalan Stasiun yang terlihat dari depan area stasiun.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Cantik sekali.
Romantis dengan cara yang sederhana.
Seolah kota kecil ini memang diciptakan untuk orang-orang yang sedang belajar pulang.
Dan tepat ketika aku hendak melangkah masuk, seseorang memanggil namaku.
“Wawaaan.”
Aku menoleh cepat.
Mariyani berdiri beberapa meter di belakangku.
Napasnya sedikit terengah.
Rambutnya berantakan terkena angin sore.
Dia mengenakan cardigan abu-abu muda yang sama seperti hari pertama kulihat di dalam kameraku.
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku langsung menangis, entah tangis apa.
“Mari…”
Aku baru hendak mendekat ketika dia lebih dulu berjalan cepat ke arahku.
Lalu memelukku.
Erat.
Hangat.
Dan untuk beberapa detik, seluruh suara stasiun seperti menghilang.
Aku bisa mencium aroma sampo dari rambutnya.
Bisa merasakan tubuhnya sedikit gemetar.
Tanganku perlahan membalas pelukannya.
“Mari…” suaraku nyaris pecah.
“Aku marah sama kamu,” bisiknya pelan.
“Aku tahu.”
“Tapi aku lebih marah kalau kamu menyerah sama hidupmu sendiri.”
Aku memejamkan mata.
Orang-orang lalu lalang di sekitar kami.
Kereta mulai membunyikan suara Panjang tanda akan berangkat.
Dan di tengah riuh stasiun itu, perempuan yang pernah kutemukan secara tidak sengaja di Jalan Stasiun kini berdiri memelukku seperti rumah yang takut kehilangan penghuninya.
Dia menjauh sedikit lalu menatapku.
Matanya basah. Menangis.
Tangisnya tak mengurangi pesonanya.
Dia tetap berusaha tersenyum.
Lalu pelan sekali, hampir seperti rahasia, dia berbisik di dekat telingaku,
“Jemput impianmu…”
Dadaku bergetar.
“…dan segera kembali ke sini menjemput aku dan anak-anak.”
Aku tidak bisa langsung menjawab.
Aku hanya bisa mengangguk sambil berurai air mata.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya ada seseorang yang menungguku pulang.
Dan….aku berjanji akan pulang menjemput Mariyani.
————-TAMAT—————–
Ditulis oleh: Wahyu Sakti Awan
Di Kediri, 10 Mei 2026
Disclaimer: Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika ada persamaan nama dan cerita, itu hanya kebetulan saja.






