Bubur Bakar Claypot Oma Jadi Menu Wajib Pecinta Kuliner Kediri, Rasanya Smokey dan Banjir Topping

bubur bakar claypot
Tampilan bubur bakar claypot Oma Kediri. Foto-Foto: Wahyu Sakti Awan/RISKS.ID

RISKS.ID – Inovasi kuliner terus bermunculan di Kota Kediri. Salah satu yang kini menjadi buruan pecinta kuliner adalah bubur bakar claypot Oma yang berada di kawasan Pujasera Sekartaji, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

Berbeda dari bubur beras pada umumnya, bubur ini disajikan dengan cara dibakar terlebih dahulu menggunakan mangkuk tanah liat atau claypot sebelum dihidangkan kepada pelanggan.

Bacaan Lainnya

Sensasi smokey atau aroma bakaran yang khas berpadu dengan tekstur bubur lembut dan topping melimpah membuat kuliner tersebut cepat viral dan menjadi buruan para pecinta makanan unik. Tidak heran jika setiap pagi kedai milik Tutwuri Handayani itu selalu ramai dipenuhi pembeli.

Bahkan, pengunjung yang datang bukan hanya warga Kediri. Banyak pelanggan rela datang dari luar daerah seperti Surabaya, Jombang, Trenggalek, Nganjuk, Tulungagung, Blitar, Malang, hingga luar Pulau Jawa demi mencicipi sensasi bubur bakar yang sedang populer tersebut.

Saat disajikan, bubur dalam claypot masih tampak mengepul panas. Aroma gurih dari proses pembakaran langsung tercium kuat dan menggugah selera. Tampilannya pun menarik dengan aneka topping berwarna-warni yang memenuhi permukaan bubur.

“Ini yang bikin ngiler, topping-nya melimpah banget. Ada jagung manis, suwiran ayam, cumi pedas, cakwe, kacang kedelei, telor dan daun bawang,” kata Ririn Mariyani, pengunjung asal, Kota Kediri.

Untuk bubur beras, menu yang tersedia terdiri atas empat varian. Varian original dijual dengan harga Rp 16 ribu dan dilengkapi lima topping, yaitu ayam suwir, cakwe, jagung manis, kacang kedelei, dan pangsit.

Kemudian, bubur bakar oriniginal plus telor omega dengan harga Rp20 ribu. Topping-nya ayam suwir, cakwe, kacang kedelei, pangsit dan telor omega.

Menu ketiga dengan banderol Rp23 ribu. Toppingnya paling lengkap, yaitu ayam suwir, cakwe, jagung manis, kacang kedelei, pangsit, cumi pedas, balado teri, dan telor omega.

Kemudian ada bubur bakar polos yang harganya paling murah, yaitu Rp9 ribu. Sedangkan untuk dimsum siomay dibanderol dengan harga Rp15 ribu.

Selain banjir topping, bubur bakar tersebut diberikan tambahan saus dan bumbu racikan khas yang membuat rasanya semakin meledak.

Selain menu utama bubur bakar claypot, kedai tersebut juga menyediakan menu pelengkap lain seperti dimsum yang tak kalah diminati pelanggan. Banyak pengunjung memesan dimsum sebagai teman sarapan sambil menikmati bubur hangat.

Ririn mengaku, awalnya penasaran setelah diajak temannya mencoba kuliner tersebut. Setelah mencicipi, dia mengaku langsung menyukai rasa bubur bakar claypot itu.

“Dari tampilannya menarik, topping-nya banyak seperti cumi pedas, telur, kacang, dan jagung manis. Rasanya lezat, bumbunya lebih terasa, ada sensasi berbeda dibanding bubur biasa,” ujar wanita berkerudung tersebut.

Menurut Ririn, proses pembakaran membuat aroma bubur lebih harum dan memberikan rasa smokey yang jarang ditemui pada menu bubur beras lainnya. Dia juga menilai porsinya cukup mengenyangkan dengan harga yang masih terjangkau.

Andre Sutanto, pembeli lain mengaku sudah beberapa kali datang untuk sarapan di tempat tersebut. Dia menilai bubur bakar claypot memiliki cita rasa yang unik dan berbeda dari bubur biasa.

“Yang membedakan, sebelum dihidangkan buburnya dibakar dulu, jadi rasanya lebih gurih. Topping-nya juga banyak dan variatif,” kata pria yang tinggal di kawasan Balowerti, Kediri itu.

Andre mengaku selalu datang lebih pagi karena khawatir kehabisan. Menurut dia, saat akhir pekan atau hari libur jumlah pembeli meningkat cukup signifikan sehingga antrean bisa lebih panjang dibanding hari biasa.

“Saya kalau kesini sebelum jam 07.00 WIB. Karena kalau kesiangan sedikit, sudah pasti kehabisan,” kata Andre yang selalu datang bersama keluarganya.

Pemilik kedai, Tutwuri Handayani menjelaskan, ide membuat bubur bakar bermula saat bulan Ramadan tahun lalu. Awalnya, dia hanya mencoba memasak menu tersebut untuk keluarga saat berbuka puasa di rumah.

Tak disangka, keluarga dan kerabat yang mencicipi justru memberikan respons positif. Dari situlah dia mulai mencoba menjual bubur bakar di kawasan Pujasera Sekartaji atau tepatnya di sebelah utara Taman Kota Sekartaji.

“Awalnya hanya coba-coba untuk keluarga saat Ramadan. Ternyata banyak yang suka, akhirnya saya jual di sini,” jelas Tutwuri.

Respons masyarakat ternyata jauh di luar perkiraannya. Dalam waktu singkat, bubur bakar claypot buatannya ramai dibicarakan pelanggan dari mulut ke mulut hingga media sosial.

Kini, dalam sehari dia mampu menjual sekitar 120 porsi bubur bakar. Jumlah tersebut bahkan bisa meningkat saat akhir pekan maupun musim liburan.

Untuk menjaga kualitas rasa, Tutwuri mengaku selalu menggunakan bahan segar dan membuat bumbu racikan sendiri. Proses pembakaran juga dilakukan sesaat sebelum bubur dihidangkan agar aroma dan sensasi hangatnya tetap terasa maksimal.

“Kalau dibakar dulu sebelum disajikan, aromanya keluar dan rasa gurihnya lebih terasa,” ungkapnya.

Kedai bubur bakar claypot tersebut buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Lokasinya yang strategis di pusat Kota Kediri membuat tempat tersebut mudah dijangkau pembeli.

Popularitas bubur bakar claypot kini menjadikannya salah satu destinasi kuliner wajib di Kota Kediri, khususnya bagi para pemburu makanan unik dengan cita rasa berbeda. Banyak pelanggan bahkan rela datang pagi-pagi agar tidak kehabisan menu favorit tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *