NOVEL HITAM DAN PUTIH: Malam Perpisahan (Bagian-6)

novel hitam dan putih
Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

HUJAN turun sejak sore ketika Mei Lin mengetuk pintu kamar Livia.

Pelan sekali.

Bacaan Lainnya

Seolah takut membangunkan sesuatu yang selama ini mereka pura-pura tidak ada.

“Liv,” panggilnya lembut.

Livia yang sedang duduk di dekat jendela menoleh perlahan.

Sudah hampir tiga minggu ia hidup seperti tahanan di rumah sendiri.

Dan selama tiga minggu itu, wajahnya berubah semakin pucat.

Ia jadi lebih pendiam.

Lebih sering melamun.

Lebih jarang makan.

Mei Lin masuk sambil membawa secangkir teh hangat.

Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya.

Gelisah.

“Ada apa, Mi?”

Mei Lin duduk di samping putrinya.

Tangannya dingin.

“Papa kamu sudah ambil keputusan.”

Jantung Livia langsung terasa tidak enak.

“Keputusan apa?”

Mei Lin tidak langsung menjawab.

Tatapannya turun ke lantai.

“Kamu akan ke Amerika.”

Sunyi.

Hanya suara hujan di luar jendela.

Livia bahkan sempat berpikir ia salah dengar.

“Apa?”

“Pamanmu di California sudah setuju bantu urus sekolah dan tempat tinggal.”

Dunia seperti berhenti bergerak.

Livia perlahan berdiri.

“Papa enggak bisa ngelakuin itu.”

“Liv….”

“AKU BUKAN BARANG!”

Air mata mulai jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Aku enggak mau pergi!”

Mei Lin memeluk putrinya cepat.

“Mami tahu…”

“Kenapa semuanya selalu ditentuin buat aku?!”

Suara Livia pecah.

Dan di bawah sana, suara Tan Hok Liang terdengar berat dari ruang makan.

“Karena aku ayahmu.”

Livia menoleh cepat.

Tan Hok Liang berdiri di depan pintu kamar.

Wajahnya keras seperti biasa.

Tetapi malam itu matanya terlihat jauh lebih tua.

“Kamu berangkat lusa.”

“Aku enggak mau.”

“Kamu harus.”

“Aku bukan anak kecil lagi!”

“Kamu masih anakku.”

Livia menatap ayahnya dengan napas gemetar.

“Semua ini cuma karena Arga kan?”

Tan Hok Liang diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan,
“Karena aku ingin kamu selamat.”

“Dari apa?”

“Dari dunia yang enggak pernah benar-benar menerima kita.”

Livia menggeleng kuat.

“Arga enggak kayak gitu.”

“Semua orang kelihatan baik sebelum keadaan berubah.”

Kalimat itu membuat dada Livia terasa sesak.

Ia sadar, tak ada lagi yang bisa ia katakan untuk mengubah ayahnya.

Trauma lelaki itu terlalu dalam.

Terlalu lama hidup di tubuhnya.

Dan sekarang trauma itu sedang menghancurkan hidup putrinya sendiri.

Malam itu juga, Mei Lin diam-diam membantu Livia keluar rumah.

“Cepat sebelum Kevin pulang,” bisiknya.

Livia membeku.

“Mami…”

“Ibu enggak bisa bantu banyak.”

Suara Mei Lin bergetar kecil.

“Tapi setidaknya kamu harus pamit.”

Air mata langsung memenuhi mata Livia.

Ia memeluk ibunya erat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Mei Lin merasa dirinya sedang melawan keluarganya sendiri.

Namun melihat wajah putrinya yang hancur perlahan setiap hari terasa jauh lebih menyakitkan.

Hujan membasahi pecinan ketika Livia berjalan cepat menyusuri gang kecil.

Lampion-lampion merah bergoyang tertiup angin malam.

Udara dingin menusuk kulit.

Namun langkahnya tidak berhenti.

Ia tahu ke mana harus pergi.

Rumah Arga.

Saat Livia datang, Arga sedang termenung di kamarnya.

Begitu melihat Livia datang, Arga langsung berdiri.

Wajahnya berubah kaget.

“Liv?”

Livia berlari memeluknya.

Begitu erat sampai Arga hampir kehilangan napas.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Livia menangis di dadanya.

Arga mematung beberapa detik sebelum akhirnya memeluk balik perlahan.

“Ada apa?”

Livia menggeleng sambil terus menangis.

Namun beberapa detik kemudian, suaranya akhirnya keluar pelan.

“Aku mau dibawa pergi.”

Dunia Arga langsung runtuh.

Hujan turun lebih deras sekarang.

Suara air memenuhi malam.

Livia menjelaskan semuanya dengan suara pelan dan terputus-putus.

Amerika.

California.

Sekolah baru.

Paman jauh.

Arga mendengarkan tanpa menyela.

Tangannya mengepal kuat sejak tadi.

“Aku enggak mau pergi,” kata Livia lirih.

Arga menunduk.

Ia ingin marah.

Ingin berteriak.

Ingin datang ke rumah keluarga Tan dan membawa Livia pergi malam itu juga.

Tetapi ia tahu dunia tidak sesederhana itu.

“Aku takut,” bisik Livia.

Arga menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat seorang gadis yang benar-benar kehilangan arah.

Bukan Livia yang cerewet.

Bukan Livia yang suka mengejek motornya.

Tetapi perempuan yang sedang ketakutan kehilangan hidupnya sendiri.

Arga mengusap pelan rambut kekasihnya itu.

“Kamu bakal balik.”

Livia menggeleng.

“Aku enggak yakin.”

“Kalau gitu aku yang nyusul.”

Livia tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Modalmu apa?”

“Motor butut.”

Livia memukul dada Arga pelan sambil tertawa tapi menangis.

Dan suara itu membuat dada Arga terasa semakin sakit.

Karena mungkin inilah malam terakhir mereka bersama.

Malam semakin larut.

Hujan belum berhenti.

Udara dingin.

Livia duduk di tepi ranjang kecil sambil memandangi Arga yang berdiri dekat jendela.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.

Hanya suara hujan.

Dan kesedihan yang memenuhi ruangan sempit itu.

“Ga.”

Arga menoleh.

Livia memandangnya dengan mata merah dan basah menahan tangis.

“Aku takut kamu lupa sama aku.”

Arga berjalan mendekat perlahan.

Lalu duduk di depannya.

“Enggak mungkin.”

“Tapi waktu bisa bikin orang berubah.”

“Aku enggak.”

Livia menggigit bibir kecil.

Tangannya perlahan menggenggam jemari Arga.

Hangat.

Gemetar.

“Aku sayang kamu.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Jujur.

Tanpa ditahan lagi.

Arga menatapnya cukup lama sebelum tersenyum kecil.

“Aku juga sayang kamu Liv. Sangat banget”

Livia mendekat.

Memeluknya pelan.

Lalu mendekatkan bibirnya dengan bibir Arga.

Lalu, Livia mencium bibir Arga dengan hati-hati.

Matanya terpejam.

Sangat lembut.

Penuh cinta dan pengharapan.

Ciuman pertama mereka terasa gugup.

Patah-patah.

Namun penuh perasaan yang selama ini mereka tahan.

Di luar, hujan terus turun membasahi Kota Kediri.

Livia terus memejamkan mata sambil menangis.

Dan dalam ketakutan kehilangan semuanya, ia ingin setidaknya malam itu menjadi milik mereka.

Tangannya bergerak gemetar membuka kancing sweaternya yang berwarna hijau muda secara perlahan.

“Arga…”

Suara gadis itu bergetar.

Namun Arga langsung menahan tangannya.

“Liv. Bukan begini.”

Livia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku mau malam ini jadi kenangan.”

Arga mengusap pipi Livia pelan.

“Kamu bukan kenangan buat aku.”

Air mata Livia jatuh lagi.

Arga memeluknya erat.

Menciumnya dengan penuh kasih sayang.

“Aku enggak mau nyentuh kamu cuma karena takut kehilangan.”

Suara Arga rendah dan bergetar.

“Aku mau nanti… ketika waktu semuanya baik-baik aja.”

Livia menangis dalam pelukan Arga.

Dan malam itu mereka hanya saling berpelukan sangat lama sambil mendengar hujan turun di luar jendela.

Menjelang subuh, mereka kembali ke pecinan.

Jalanan masih basah.

Lampion merah bergoyang pelan tertiup angin pagi.

Sebelum berpisah, Livia menggenggam tangan Arga erat.

“Janji sama aku.”

“Apa?”

“Kita bakal ketemu lagi.”

Arga mengangguk tanpa ragu.

“Pasti.”

Mereka saling memandang beberapa detik terlalu lama.

Lalu Livia pergi masuk ke gang kecil menuju rumahnya.

Dan Arga masih berdiri di sana sampai sosoknya benar-benar hilang.

Tanpa tahu, itu adalah terakhir kalinya ia melihat Livia di Kediri.

Dua hari kemudian, Livia dibawa ke Surabaya.

Tan Hok Liang sengaja berangkat lebih pagi.

Tidak memberi siapa pun kesempatan.

Kevin mengawasi semuanya dengan ketat.

Sementara itu di Kediri, Arga baru tahu kabar keberangkatan Livia dari Mei Lin yang diam-diam menelepon rumahnya.

“Juanda,” katanya pelan sambil menangis. “Sekarang.”

Arga langsung berangkat.

Motor tuanya melaju gila-gilaan menerobos hujan menuju Surabaya.

Tangannya gemetar.

Dadanya sesak.

Sepanjang jalan ia terus mengingat janji mereka.

Kita bakal ketemu lagi.

Namun ketika akhirnya Arga sampai di Bandara Juanda, semuanya terlambat.

Pesawat menuju Los Angeles sudah lepas landas dua puluh menit lalu.

Arga berdiri diam di depan kaca besar bandara.

Basah oleh hujan.

Napas terengah.

Dan mata kosong menatap langit kelabu Surabaya.

Jauh di atas sana, sebuah sebuah pesawat menghilang di antara awan.

Membawa separuh hidupnya pergi terlalu jauh.

“Liviaaaaa……..”

 

Bersambung…………….

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *