Prospek Pasar Saham dan Obligasi Asia Menjanjikan pada Semester II 2026, Intip Sektor Pilihan yang Paling Cuan

manulife

RISKS.ID – Manulife Investment Management memberikan pandangan optimistis terkait pasar keuangan di kawasan Asia untuk paruh kedua tahun ini. Mereka menilai prospek saham Asia masih sangat menarik pada semester II 2026.

Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini didukung oleh prospek pertumbuhan laba perusahaan yang membaik, kondisi keuangan yang lebih longgar, serta beragam faktor pendorong pertumbuhan di masing-masing kawasan.

Bacaan Lainnya

Head of Asia Equities Manulife Investment Management, June Chua, memberikan catatan khusus untuk pasar saham di China. Pihaknya melihat prospek pertumbuhan laba yang lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan setelah melewati periode pelemahan sebelumnya.

“Seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan. Bersama dengan dukungan kebijakan dan valuasi yang masih menarik, hal ini menunjukkan latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham Tiongkok dalam jangka menengah,” kata June dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026.

Selain China, wilayah Taiwan dan Korea Selatan juga dinilai masih memperoleh manfaat besar dari momentum kuat di ekosistem kecerdasan artifisial atau AI. Rantai pasok yang kuat dan tangguh, serta peningkatan teknologi yang terus berlangsung dinilai mampu mendorong pertumbuhan laba sektor semikonduktor dan industri terkait.

Bagaimana dengan wilayah Asia Tenggara? Di kawasan ASEAN, Chua memandang tantangan jangka pendek memang masih ada. Namun, dia memperkirakan upaya kebijakan yang terkoordinasi dan penguatan permintaan domestik dapat mendukung pemulihan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

“Dalam kondisi ini, saham Asia menawarkan sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang berbeda. Namun, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi, sehingga semakin menegaskan pentingnya pengelolaan investasi aktif serta pendekatan yang disiplin dan selektif dalam menangkap peluang di kawasan ini,” ujarnya.

Sektor Obligasi Asia Masih Seksi

Tidak hanya pasar saham, instrumen pendapatan tetap juga menunjukkan performa yang menjanjikan. Head of Asia Fixed Income Manulife Investment Management, Murray Collis, memprediksi obligasi Asia tetap berada pada posisi yang baik pada semester II 2026 seiring investor mencari sumber pendapatan dan diversifikasi.

Menurut dia, obligasi Asia menawarkan kombinasi imbal hasil yang lebih tinggi dan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen global sejenis. Hal ini diyakini bisa menjadi nilai tambah tersendiri bagi para pemburu imbal hasil.

“Hal ini memberikan bantalan pendapatan yang lebih resilien terhadap volatilitas suku bunga. Kami melihat peluang pada obligasi berdenominasi dolar AS di Asia dan pasar obligasi mata uang lokal tertentu, di mana dukungan kebijakan dan fundamental yang solid dapat membantu menopang imbal hasil,” katanya.

Pada instrumen kredit, obligasi berimbal hasil tinggi atau high yield di Asia dinilai menonjol karena menawarkan potensi imbal hasil yang menarik dan didukung fundamental yang membaik. Sementara itu, obligasi investment grade tetap ditopang oleh pertumbuhan ekonomi kawasan yang sehat.

Namun, untuk pasar obligasi mata uang lokal, faktor selektivitas menjadi poin yang sangat penting. Jepang dan India dinilai menawarkan peluang yang berbeda seiring kondisi kebijakan dan dinamika pasar yang mendukung pergerakan suku bunga maupun mata uang.

Collis juga mencatat faktor teknis masih mendukung pasar obligasi Asia, antara lain melalui terbatasnya pasokan bersih obligasi dolar AS di kawasan yang membantu menopang valuasi.

“Dengan latar belakang tersebut, obligasi Asia tetap berada dalam posisi yang baik untuk memberikan pendapatan dan diversifikasi, sekaligus menawarkan ketahanan relatif pada semester kedua 2026,” ujarnya.

Sebagai kesimpulan, Manulife Investment Management menekankan bahwa pengelolaan portofolio pada semester II 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan investor beradaptasi terhadap perbedaan laju pertumbuhan antarwilayah dan kondisi inflasi yang masih persisten.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *