Pemerintah memproyeksikan daya beli serta tingkat pendapatan masyarakat kelas menengah akan kembali pulih secara bertahap dalam kurun satu hingga dua tahun mendatang. Optimisme tersebut dipatok seiring dengan eksekusi strategi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mampu menembus angka di atas 6 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa lesunya kondisi kelas menengah saat ini merupakan konsekuensi logis dari laju perekonomian nasional yang sempat tertahan di bawah kisaran 5 persen. Laju yang terbatas itu memicu gelombang deindustrialisasi, sehingga penyerapan tenaga kerja di sektor formal menjadi kian terbatas.
“Problemnya sekarang kelas menengah enggak dapat, kelas menengah pendapatannya turun. Makanya kita ciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat,” ujar Purbaya pada agenda Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Guna mengatasi persoalan struktural tersebut, pemerintah merancang lompatan pertumbuhan secara terukur menuju angka 8 persen. Menkeu menilai bahwa tingkat pertumbuhan di level 6,5 persen menjadi ambang batas krusial agar penciptaan lapangan kerja formal yang berkelanjutan dapat diakselerasi secara maksimal.
Peluang bagi kemunculan kelompok masyarakat menengah baru juga diyakini bakal terbuka lebar seiring membaiknya serapan tenaga kerja. “Nanti pelan-pelan kalau lapangan kerja tercipta, pendapatan masyarakat menengah meningkat dan tercipta masyarakat menengah baru,” tutur Purbaya melengkapi penjelasannya.
Sejumlah stimulus strategis telah disiapkan guna membangkitkan kembali gairah sektor riil dan manufaktur:
-
Program hilirisasi industri serta insentif khusus disalurkan langsung ke sektor padat karya, termasuk industri tekstil.
-
Injeksi likuiditas via Saldo Anggaran Lebih (SAL) dialirkan ke perbankan komersial demi menekan suku bunga kredit.
-
Fasilitas pembebasan pajak disiapkan bagi pelaku UMKM pada kriteria tertentu guna memperkuat ketahanan bisnis.
-
Hambatan birokrasi dan perizinan difasilitasi penyelesaiannya melalui pembentukan Satgas Debottlenecking.
Melalui kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif dan penyederhanaan regulasi, pemerintah optimistis perbaikan fondasi ekonomi ini mampu memulihkan kesejahteraan masyarakat secara merata.






