RISKS.ID – Cerita hidup sepasang suami istri dari Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini dapat dijadikan contoh. Suyono (67) dan Lastri (59) tak pernah benar-benar menyerah pada keadaan.
Keduanya menjalani hidup sehari-hari dengan kesederhanaan, ditemani penyakit yang telah mereka derita selama hampir dua dekade.
Pagi itu, Minggu, 15 Maret 2026, langkah Suyono terlihat lebih ringan dari biasanya. Bersama Lastri, dia mendatangi kegiatan Ramadan Berkah yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kediri. Kegiatan sosial tersebut menjadi secercah harapan bagi pasangan yang hidup pas-pasan ini.
Suyono adalah pedagang kaki lima di Pare. Setiap hari, dia mengandalkan gerobak gorengan sederhana miliknya untuk menyambung hidup. Penghasilannya tidak menentu. Kadang cukup untuk makan sehari, kadang harus berhemat agar dapur tetap mengepul.
Namun, beban hidup mereka tak hanya soal ekonomi. Sejak sekitar 17 tahun lalu, Suyono dan Lastri didiagnosis menderita diabetes dan hipertensi. Penyakit itu datang perlahan, tapi menetap lama.
“Awalnya tidak terasa, tahu-tahu sudah harus rutin kontrol,” ujar Suyono pelan.
Selama bertahun-tahun, keduanya berusaha menjaga kondisi dengan cara seadanya. Mengurangi makanan manis, menahan keinginan makan enak, dan sesekali memeriksakan diri jika ada biaya.
Tapi, keterbatasan ekonomi sering membuat pengobatan tidak berjalan optimal. “Yah kalau ada (uang), kami periksa,” katanya.
Karena itu, ketika mendengar ada pemeriksaan kesehatan gratis, Suyono tak ingin melewatkannya.
Bagi Suyono dan Lastri, hari itu bukan sekadar mendapatkan sembako atau pemeriksaan gratis. Lebih dari itu, mereka merasa diperhatikan.
Di usia yang tak lagi muda, dengan penyakit yang terus menemani, harapan mereka sederhana: bisa tetap sehat, tetap berjualan, dan tetap hidup bersama.
Suyono menatap Lastri sejenak, lalu tersenyum.
“Yang penting masih bisa jalan bareng, itu sudah cukup,” katanya.
Di tengah kerasnya hidup, pasangan ini membuktikan satu hal—bahwa bertahan adalah bentuk keberanian, dan harapan bisa tumbuh bahkan dari hal-hal kecil seperti perhatian dan kepedulian.
Hasil Pemeriksaan yang Melegakan
Di lokasi kegiatan, tepatnya di kantor Sekretariat IDI Kabupaten Kediri, antrean warga terlihat cukup panjang. Namun, wajah Suyono dan Lastri tetap sabar menunggu giliran.
Mereka menjalani pemeriksaan gula darah dan asam urat yang disediakan panitia. Hasilnya membuat keduanya sedikit lega.
“Alhamdulillah, gula darah sama tekanan darah masih bagus,” kata Lastri dengan senyum tipis. “Cuma asam urat saja yang agak tinggi.”
Bagi mereka, kabar itu seperti hadiah kecil di tengah perjuangan panjang melawan penyakit. Setidaknya, kondisi mereka masih bisa dikendalikan.
Kegiatan Ramadan Berkah tersebut dibuka oleh dr Zainal selaku ketua panitia. Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian tenaga medis terhadap masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu.
“Semoga apa yang kami lakukan dapat menjadi berkah bagi kita semua, Aamiin,” kata dokter Zainal.
Tak hanya pemeriksaan kesehatan gratis, panitia juga membagikan 230 paket sembako kepada warga. Paket tersebut berisi kebutuhan pokok yang sangat berarti bagi keluarga seperti Suyono dan Lastri.
Suyono mengaku bantuan itu sangat membantu. “Kalau dapat sembako begini, bisa meringankan beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Mujiati, warga Wonosari, Sambirejo, yang sehari-hari berjualan nasi. Dia juga ikut dalam kegiatan tersebut dan merasakan langsung manfaatnya.
“Alhamdulillah, sangat terbantu. Apalagi buat kami yang penghasilannya tidak pasti,” kata Mujiati, pedagang makanan tradisional itu.
Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya soal bantuan materi, tapi juga perhatian yang membuat warga merasa tidak sendirian.
Dia berharap Ikatan Dokter Indonesia dapat lebih sering mengadakan kegiatan serupa.
“Kalau bisa sering-sering. Karena banyak warga kecil seperti saya yang butuh,” tambahnya.
Sementara itu, dr Taufan Hidayat menjelaskan bahwa kegiatan ini memang sengaja digelar untuk membantu masyarakat sekitar yang kurang mampu, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah.
Menurutnya, akses kesehatan masih menjadi tantangan bagi sebagian warga. Banyak yang menunda pemeriksaan karena biaya, hingga akhirnya kondisi semakin parah.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.
Dia menambahkan, pemeriksaan sederhana seperti gula darah dan asam urat sebenarnya sangat penting untuk deteksi dini penyakit.






