China Dorong Dialog Saat Trump Berkunjung

Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

RISKS.ID – Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China pada pertengahan Mei 2026 menjadi sorotan internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama terkait konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Di saat bersamaan, China juga memperkuat hubungan diplomatiknya dengan Iran serta mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz yang dinilai vital bagi stabilitas ekonomi dunia.

Dalam wawancara langsung dari Teheran, warga negara Indonesia yang berada di Iran, Hisam Sidki, menyampaikan bahwa pertemuan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing pada 7 Mei lalu menghasilkan sejumlah poin penting terkait situasi Timur Tengah yang memanas.

Bacaan Lainnya

Menurut Hisam, kedua negara menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan dan martabat nasional masing-masing di tengah tekanan geopolitik yang terjadi saat ini. Iran juga disebut menaruh kepercayaan besar kepada China untuk memainkan peran aktif dalam mendorong perdamaian kawasan.

“Iran berharap China terus mengambil peran dalam mendorong perdamaian, mengakhiri konflik, serta membantu membangun kerangka keamanan baru pascaperang di kawasan Timur Tengah,” ujar Hisam.

Salah satu poin penting dalam pembahasan tersebut adalah mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang sebelumnya mengalami gangguan akibat meningkatnya konflik regional. China mendesak agar jalur tersebut segera dibuka kembali karena dinilai sangat penting bagi perdagangan dan ekonomi global.

“China menilai blokade di Selat Hormuz merugikan komunitas internasional dan ekonomi dunia,” katanya.

Selain isu keamanan kawasan, Iran dan China juga membahas penguatan hubungan bilateral. Dalam situasi tekanan internasional yang meningkat, Teheran menegaskan bahwa Beijing tetap menjadi mitra strategis utama Iran.

Kedua negara berkomitmen memperluas kerja sama di berbagai sektor untuk menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk ekonomi, energi, dan keamanan regional.

Tak hanya itu, isu nuklir Iran juga kembali menjadi perhatian. China menegaskan dukungannya terhadap hak Iran untuk mengembangkan energi nuklir secara damai di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut memperlihatkan posisi Beijing yang cenderung mendukung pendekatan diplomatik ketimbang tekanan militer terhadap Teheran.

Sementara itu, Iran juga menegaskan tetap membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat, namun hanya untuk kesepakatan yang dianggap adil dan tidak merugikan kepentingan nasionalnya.

“Iran terbuka untuk diplomasi dan negosiasi, tetapi tidak akan menandatangani perjanjian yang merugikan kepentingan nasional mereka,” kata Hisam.

Di sisi lain, perhatian dunia juga tertuju pada rencana pertemuan Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei mendatang.

Mahasiswa doktoral hubungan internasional di China, Abdur Rahim, mengatakan persiapan penyambutan Trump di Beijing telah dilakukan secara matang. Namun, menurutnya, kunjungan kali ini tidak akan semegah kunjungan Trump pada 2017 silam.

“Secara protokol tetap ada sambutan resmi dan jamuan makan malam kenegaraan, tetapi skalanya tidak sebesar kunjungan tahun 2017,” ujar Abdur Rahim.

Ia menjelaskan, kunjungan Trump sebelumnya sempat diharapkan mampu menurunkan tensi hubungan kedua negara. Namun, dalam perkembangannya, ketegangan justru meningkat, terutama akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Karena itu, Beijing kini disebut menyiapkan pendekatan yang lebih hati-hati dan simbolis. Salah satunya dengan memilih Temple of Heaven atau Tiantan sebagai lokasi agenda penting kunjungan tersebut.

“Temple of Heaven dalam budaya China merepresentasikan harmoni. Pemilihan lokasi itu diharapkan menjadi simbol pentingnya komunikasi dan hubungan harmonis antara China dan Amerika Serikat,” jelasnya.

Meski isu keamanan dan konflik Iran diperkirakan akan menjadi salah satu topik pembicaraan, agenda utama pertemuan tetap berkaitan dengan perdagangan.

Menurut Abdur Rahim, Trump masih berusaha mempertahankan citranya sebagai “deal maker” di mata publik Amerika Serikat, terutama menjelang dinamika politik domestik dan tekanan ekonomi akibat perang dagang berkepanjangan.

“Perang dagang justru memberikan tekanan kepada basis pendukung politik Trump sendiri, terutama negara-negara bagian berbasis Partai Republik,” katanya.

Amerika Serikat juga disebut telah menawarkan proposal pembentukan mekanisme bersama dengan China untuk mengidentifikasi sektor-sektor penyebab defisit perdagangan antara kedua negara yang mencapai sekitar 30 miliar dolar AS.

Namun, proposal tersebut masih mendapat respons skeptis dari publik dan pemerintah China. Meski demikian, Beijing tetap membuka ruang dialog dengan Washington.

“China menilai dialog tetap penting meskipun perang dagang masih berlangsung,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah isu perdagangan diperkirakan akan dibahas, termasuk potensi pembelian produk pertanian Amerika Serikat dan pesawat Boeing oleh China.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping kali ini dinilai menjadi momentum penting bagi dua kekuatan ekonomi terbesar dunia untuk meredakan ketegangan sekaligus mencari titik temu di tengah situasi global yang semakin kompleks, mulai dari perang dagang hingga konflik Timur Tengah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *