AKU mulai sakit.
Mungkin karena terlalu sering pulang malam setelah berjalan kaki bersama Mariyani di sepanjang Jalan Stasiun. Mungkin juga karena tubuhku akhirnya lelah menyimpan terlalu banyak hal yang selama ini kupendam sendiri.
Awalnya hanya demam ringan.
Kepalaku berat. Tenggorokan terasa pahit. Tapi aku tetap menganggapnya biasa.
“Aku cuma kecapekan,” kataku waktu Mariyani menelepon malam itu.
“Suaramu nggak kayak orang kecapekan.”
“Lebay kamu.”
“Foto termometer.”
Aku tertawa kecil.
“Kayak anak SMA aja.”
“Foto. Sekarang!”
Aku akhirnya mengirim foto termometer digital yang menunjukkan angka hampir tiga puluh sembilan.
Dan setelah itu ponselku langsung berdering.
“Kamu ke dokter?”
“Belum.”
“Obat?”
“Masih ada.”
“Sudah makan?”
Aku diam.
“Nggak usah dijawab. Berarti belum.”
Aku tersenyum sendiri mendengar nada kesalnya.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang memarahiku karena hal-hal kecil seperti itu.
“Tidur aja nanti juga turun,” kataku.
“Alamat kosmu kirim.”
“Nggak usah, Mari. Di luar hujan.”
“Alamat.”
Aku akhirnya menyerah.
Kosku berada tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di kawasan Pakelan, Kediri. Tak jauh dari kelenteng Tjoe Hwie Kiong yang legendaris itu.
Yang saya tahu, kelenteng ini adalah salah satu bangunan kuno di Kota Kediri yang dibangun sekitar Abad 19 Masehi. Umur dari kelenteng ini sudah mencapai 200 tahun.
Kosku, adalah rumah yang sederhana. Milik keluarga Tionghoa. Cat temboknya agak kusam. Ada suara televisi dari kamar sebelah hampir setiap malam.
Tempat itu cukup untuk seseorang yang sedang mencoba memulai hidup dari nol.
Sekitar empat puluh menit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Aku membuka pintu dengan kepala pening.
Mariyani berdiri di depan sambil membawa plastik berisi makanan, obat, dan termos kecil.
Rambutnya sedikit basah terkena gerimis.
“Kamu beneran nyetir sendiri?” tanyaku pelan.
“Kalau nggak gini, kamu bisa mati sendirian di kos.”
“Aku cuma demam.”
Dia masuk tanpa menjawab.
Ruangan kosku mendadak terasa sempit oleh kehadirannya.
Mariyani melihat sekeliling kamar yang berantakan. Kamera di meja. Baju yang belum dilipat. Gelas kopi instan di dekat tempat tidur.
Dia menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Bukan jijik.
Bukan kasihan.
Lebih seperti seseorang yang diam-diam sedih melihat orang lain terlalu lama hidup sendirian.
“Kamu tidur,” katanya.
“Aku nggak papa.”
“Wan.”
Nada suaranya lembut, tapi tidak memberi pilihan.
Aku akhirnya duduk di tepi ranjang sementara dia sibuk membuka plastik makanan.
Aroma sup hangat perlahan memenuhi kamar.
“Kamu masak sendiri?”
Dia mengangguk kecil.
“Anak-anak tidur tadi, jadi aku tinggal sebentar.”
Entah kenapa kalimat itu membuat dadaku terasa hangat.
Ada seseorang yang meninggalkan kenyamanan rumahnya hanya untuk memastikan aku makan malam.
Hal sesederhana itu ternyata bisa terasa sangat besar bagi orang yang terlalu lama sendirian.
Mariyani duduk di kursi kecil dekat ranjang sambil memperhatikanku makan.
“Kamu kurusan,” katanya pelan.
“Aku emang dari dulu nggak gemuk.”
“Bukan itu.”
Aku tahu maksudnya.
Yang kurus bukan tubuhku saja.
Hidupku juga.
Setelah makan, dia memintaku minum obat lalu mengompres kepalaku dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat.
Aku sempat tertawa kecil.
“Kenapa ketawa?”
“Kayak mimpi aja.”
“Mimpi apanya?”
“Ada yang peduli sama aku lagi. Dan datang ke sini pakai daster pula.”
Kataku sambil terkekeh.
Mariyani tersipu malu.
Tangannya berhenti sebentar.
Hanya sebentar.
Lalu kembali mengusap pelan dahiku.
“Jangan ngomong kayak gitu.”
Aku menatap langit-langit kamar.
Hujan turun perlahan di luar sana.
Suara kendaraan dari jalan besar terdengar samar.
Dan di tengah kamar kos sempit itu, aku mendadak merasa sangat rapuh.
“Mari,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Aku takut.”
Dia diam menunggu.
“Aku takut nggak bisa bangkit lagi.”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Kalimat yang selama ini kusimpan sendiri.
Aku yang dulu terbiasa berdiri di ruang sidang dengan jas mahal dan suara penuh keyakinan, sekarang bahkan takut menghadapi hidupku sendiri.
Mariyani tidak buru-buru menjawab.
Dia hanya duduk di samping ranjang sambil menatapku lama.
Lalu pelan sekali, dia berkata,
“Kalau capek berdiri sendiri… ya jangan sendiri.”
Aku memejamkan mata.
Dan anehnya, setelah mendengar itu, rasanya seperti ada bagian dalam diriku yang akhirnya berhenti berlari.
Malam semakin larut.
Demamku perlahan turun.
Sebelum pulang, Mariyani membereskan meja kecil di dekat tempat tidurku. Menutup jendela yang sedikit terbuka. Memastikan obatku tersusun rapi.
Gerakan-gerakan kecil yang terasa seperti rumah.
Saat dia berdiri di depan pintu, aku memanggilnya lagi.
“Mari.”
Dia menoleh.
“Terima kasih.”
Dia tersenyum kecil.
Bukan senyum besar.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum seseorang yang tahu bagaimana rasanya terluka, lalu memilih tetap tinggal untuk orang lain.
“Aku nggak nyelametin kamu, Wan,” katanya pelan.
“ Aku cuma nemenin.”
Bersambung………………






