RISKS.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 April 2026 turun menjadi 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau senilai Rp164,4 triliun.
Angka tersebut membaik dibandingkan posisi per 31 Maret 2026 yang mencatat defisit sebesar 0,93 persen PDB atau Rp240,1 triliun.
“Defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB. Kemarin waktu keluar di bulan Maret 0,93 persen. Jadi, keadaan membaik,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (20/5/2026).
Dari sisi pendapatan, penerimaan negara tercatat tumbuh 13,3 persen dengan realisasi mencapai Rp918,4 triliun atau setara 29,1 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.
Penerimaan perpajakan menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 13,7 persen menjadi Rp746,9 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak tumbuh 16,1 persen menjadi Rp646,3 triliun, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai naik 0,6 persen menjadi Rp100,6 triliun.
Purbaya mengatakan pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan penerimaan pajak agar bisa mencapai target pertumbuhan hingga 20 persen.
“Artinya, kami akan usahakan ke arah sana. Ini jelas lebih bagus dibandingkan April tahun lalu yang minus 10,8 persen,” katanya.
Sementara itu, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 11,6 persen menjadi Rp171,3 triliun.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara tumbuh signifikan sebesar 34,3 persen menjadi Rp1.082,8 triliun. Nilai tersebut setara 28,2 persen dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun.
Belanja pemerintah pusat tercatat naik 51,1 persen menjadi Rp826 triliun. Menurut Purbaya, peningkatan itu merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meratakan penyaluran belanja sepanjang tahun.
Secara rinci, belanja kementerian/lembaga (K/L) tumbuh 57,9 persen menjadi Rp400,5 triliun. Sedangkan belanja non-K/L naik 45,2 persen menjadi Rp425,5 triliun.
Berbeda dengan belanja pemerintah pusat, realisasi transfer ke daerah (TKD) masih mengalami kontraksi sebesar 1 persen dengan nilai Rp256,8 triliun.
Meski demikian, keseimbangan primer APBN berhasil berbalik surplus setelah sebelumnya mengalami defisit. Hingga akhir April 2026, keseimbangan primer tercatat surplus Rp28 triliun.
Surplus keseimbangan primer menunjukkan kondisi fiskal pemerintah masih cukup kuat dalam mengelola pendapatan, belanja, dan utang negara.
“Keseimbangan primer dan defisit April dibandingkan Maret jadi lebih bagus,” ujar Purbaya.






