SETELAH kerusuhan di Jakarta dan Solo, pecinan Kediri juga ikut terimbas.
Kota ini berubah menjadi tempat yang lebih sunyi.
Lampion-lampion merah masih tergantung di depan toko, tetapi tidak lagi terasa hangat.
Rolling door banyak ruko ditutup lebih cepat. Orang-orang berbicara lebih pelan, lebih curiga, seolah takut salah mengucapkan sesuatu.
Dan di rumah keluarga Tan, semua berubah semakin sempit bagi Livia.
Tan Hok Liang benar-benar menepati ucapannya.
Livia tidak lagi diizinkan keluar sendirian.
Jika ingin ke toko bawah, Mei Lin harus ikut.
Jika ingin ke klenteng, Kevin mengantar.
Bahkan telepon rumah mulai diawasi.
Rumah besar dengan pintu merah itu perlahan berubah seperti penjara.
Pagi itu Livia membuka jendela kamarnya.
Udara dingin masuk bersama aroma tanah basah dan samar-samar bau roti kacang dari toko ujung gang.
Di bawah sana, pecinan mulai hidup perlahan.
Pegawai toko membuka pintu.
Sepeda lewat.
Pedagang sayur berteriak menawarkan dagangan.
Namun semuanya terasa jauh dari kamar lantai dua itu.
Livia duduk di dekat jendela sambil memeluk lutut.
Sudah sembilan hari ia tidak bertemu Arga.
Sembilan hari tanpa suara tawanya.
Tanpa obrolan di tepi Sungai Brantas.
Tanpa motor butut yang selalu bunyi sebelum muncul di ujung gang.
Dan yang paling menyiksa, tidak ada kabar sama sekali.
Awalnya Livia mencoba menelepon rumah Arga diam-diam malam hari.
Tetapi Kevin memutus kabel telepon kamar dua hari lalu dengan alasan “supaya fokus istirahat.”
Padahal mereka sama-sama tahu itu bohong.
Pintu kamar diketuk pelan.
Mei Lin masuk membawa semangkuk bubur beras.
“Makan dulu.”
Livia tidak bergerak.
“Liv…”
“Aku enggak lapar ma.”
Mei Lin duduk di samping putrinya.
Wajah perempuan itu terlihat lelah akhir-akhir ini. Ia seperti terus berada di tengah dua badai, suami keras kepala dan anak perempuan yang mulai memberontak.
“Kamu jangan bikin Papa makin marah.”
Livia tertawa kecil tanpa humor.
“Aku bahkan enggak boleh keluar rumah.”
“Papa cuma takut.”
“Takut apa?”
Mei Lin terdiam.
Tatapannya turun ke lantai.
Lalu perlahan berkata, “Dulu waktu kerusuhan… toko keluarga Papa hampir dibakar.”
Livia sudah sering mendengar cerita itu.
Tetapi tidak pernah sedetail ini.
“Papa kamu waktu itu masih muda. Dia lihat sendiri orang-orang lempar batu ke rumah keluarga mereka.”
Suara Mei Lin mengecil.
“Kongco (kakek) kamu hampir dipukul massa.”
Hening beberapa saat.
“Habis itu Papa berubah?”
Mei Lin mengangguk pelan.
“Dia jadi percaya kalau satu-satunya cara bertahan adalah jangan terlalu dekat dengan siapa pun di luar keluarga.”
Livia menatap ibunya.
“Tapi Arga bukan orang jahat.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu membuat Livia sedikit terkejut.
Mei Lin tersenyum tipis.
“Ibu bisa lihat dari cara dia memandang kamu.”
“Terus kenapa Ibu diam aja?”
Karena aku juga takut kehilangan kamu, pikir Mei Lin.
Namun yang keluar hanya “Kadang keluarga melakukan hal buruk karena terlalu takut.”
Livia memalingkan wajah ke jendela.
Air hujan menetes di kaca seperti garis-garis kecil yang buram.
Dan di dalam dadanya, rindu mulai berubah menjadi sakit.
Sementara itu, Arga hampir setiap hari datang ke pecinan.
Kadang sore.
Kadang malam.
Ia berdiri di depan toko tekstil keluarga Tan cukup lama sebelum akhirnya hanya pulang tanpa hasil.
Pintu toko selalu tertutup.
Dan setiap kali Arga mencoba mendekat, Kevin selalu muncul entah dari mana.
Suatu malam, Arga memberanikan diri mengetuk rolling door samping rumah keluarga Tan.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu pintu kecil terbuka sedikit.
Kevin berdiri di sana.
Tatapannya dingin seperti biasa.
“Kamu lagi.”
“Aku mau ketemu Livia.”
Kevin tertawa kecil.
“Berani juga.”
“Aku cuma mau ngomong.”
“Dia enggak mau ketemu kamu.”
Arga langsung menggeleng.
“Bohong.”
Rahang Kevin mengeras.
“Dengar ya.”
Ia melangkah mendekat.
“Kamu pikir ini film cinta?”
Arga diam.
“Kamu enggak ngerti dunia kami.”
“Terus dunia kalian itu apa?”
Kevin tersenyum sinis.
“Dunia yang enggak cocok buat orang kayak kamu.”
Kalimat itu menusuk tepat ke harga diri Arga.
Tetapi ia menahannya.
“Aku cuma pengen tahu dia baik-baik aja.”
Kevin menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Kalau kamu memang peduli sama Livia, berhenti datang ke sini.”
BRAK.
Pintu ditutup keras tepat di depan wajah Arga.
Namun Arga tidak menyerah.
Dua hari kemudian ia menulis surat.
Kertasnya sederhana.
Sedikit terkena noda tinta sablon di pojok bawah.
Tulisan tangannya tidak terlalu rapi.
Liv,
Aku enggak tahu kamu marah atau enggak karena aku terus datang.
Tapi aku cuma pengen lihat kamu sekali aja.
Pecinan jadi aneh sejak kamu enggak ada.
Bahkan hujan sekarang rasanya beda.
— Arga
Surat itu ia titipkan pada anak kecil penjual koran dekat toko keluarga Tan.
“Kasihin ke mbak yang rumah pintu merah ya.”
Anak itu mengangguk semangat.
Namun surat itu tidak pernah sampai.
Karena sebelum masuk rumah, Kevin sudah mengambilnya lebih dulu.
Ia membaca isi surat itu sendirian di ruang belakang toko.
Tatapannya berubah dingin.
Lalu tanpa ragu, surat itu ia masukkan ke laci meja dan dikunci.
Hari-hari berikutnya, surat demi surat terus datang.
Kadang lewat tukang parkir.
Kadang lewat pegawai toko sebelah.
Kadang Arga menyelipkannya langsung di bawah pintu kecil samping rumah.
Dan semuanya berakhir di tangan Kevin.
Tak satu pun sampai ke Livia.
Awalnya Kevin hanya ingin melindungi adiknya.
Tetapi lama-lama muncul perasaan lain.
Marah.
Karena setiap membaca surat itu, ia bisa merasakan ketulusan yang tidak bisa ia bantah.
Dan Kevin membenci kenyataan itu.
Di sisi lain, Livia mulai merasa putus asa.
Ia tidak tahu bahwa Arga terus menulis.
Yang ia tahu, Arga menghilang.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Tidak ada usaha.
Dan itu perlahan mulai menghancurkan hatinya.
Suatu malam, Livia duduk sendiri di kamar sambil memandangi langit.
Tangannya memegang kamera kecil silver miliknya.
Di dalam kamera itu masih ada foto siluet Arga di bawah lampion.
Ia mengusap layar kecil itu perlahan.
“Kenapa kamu diam aja…” bisiknya.
Matanya mulai basah.
Hatinya perih.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, Livia merasa benar-benar sendirian di rumahnya sendiri.
Di bawah, pertengkaran sedang terjadi.
“Aku enggak suka cara kamu ngurung dia,” kata Mei Lin pelan pada suaminya.
Tan Hok Liang tetap membaca koran.
“Aku melindungi anakku.”
“Dia bukan tahanan.”
“Dunia luar lebih kejam daripada rumah ini.”
Mei Lin menahan napas.
“Kalau terus begini, dia malah makin jauh dari kita.”
Tan Hok Liang akhirnya menurunkan korannya.
Tatapannya lelah.
“Aku cuma enggak mau kehilangan dia.”
Kalimat itu keluar pelan sekali.
Dan untuk pertama kalinya Mei Lin sadar, di balik semua kemarahan itu, suaminya sebenarnya hanyalah lelaki tua yang hidup terlalu lama bersama ketakutan.
Malam berikutnya, Arga kembali datang ke pecinan.
Hujan turun deras.
Ia berdiri di seberang rumah keluarga Tan sambil menatap jendela lantai dua yang masih menyala.
Jendela kamar Livia.
Motor tuanya basah kuyup.
Jaket jinsnya penuh air hujan.
Tetapi ia tidak pergi.
Di lantai dua, Livia yang sedang berdiri di balik tirai tiba-tiba membeku.
Siluet itu.
Motor itu.
Arga.
Dadanya langsung berdegup keras.
Ia membuka jendela sedikit.
Hujan masuk mengenai wajahnya.
Arga melihat ke atas.
Dan untuk beberapa detik panjang, mereka hanya saling memandang dari jarak yang terlalu jauh.
Tidak ada suara.
Tidak ada kata-kata.
Hanya hujan.
Dan rindu yang nyaris menghancurkan keduanya.
Namun sebelum Livia sempat melambaikan tangan…
Kevin muncul dari belakang Arga.
“Masih belum nyerah juga?”
Arga menoleh cepat.
Kevin berdiri di bawah payung hitam sambil menatapnya dingin.
“Livia!”
teriak Kevin keras ke arah jendela.
Tirai langsung ditutup dari dalam.
Jantung Livia berdegup kacau.
Sementara di bawah, Kevin melangkah mendekati Arga.
“Hentikan semua ini.”
“Aku cuma mau ketemu dia.”
“Kamu enggak ngerti ya?”
Kevin menatapnya tajam.
“Kamu itu masalah.”
Hujan turun semakin deras.
Air mengalir di wajah Arga.
Tetapi suaranya tetap tenang ketika berkata,
“Kalau aku masalah… kenapa kalian takut sama aku?”
Kevin membeku sepersekian detik.
Dan itulah pertama kalinya ia sadar, anak kampung sederhana di depannya ini tidak akan mudah dihancurkan.
Bersambung…………….
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






