Rupiah Jebol ke Rp17.926 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicu

rupiah melemah
Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

RISKS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia sekaligus memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah membuat investor cenderung mencari aset aman, termasuk dolar AS. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga mengalami kenaikan signifikan yang menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bacaan Lainnya

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia. WTI berada di level 94,58 dolar AS per barel, sementara Brent crude oil menguat menjadi 96,72 dolar AS per barel,” kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/6).

Menurut dia, kebuntuan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian pasar global. Situasi tersebut diperparah oleh ketegangan yang terus berlangsung antara Iran dan Israel.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia sehingga harga minyak bertahan di level tinggi.

Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga energi global berpotensi menjaga inflasi Amerika Serikat tetap tinggi. Dampaknya, bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Bahkan, menurut dia, peluang kenaikan suku bunga acuan masih terbuka pada tahun ini apabila tekanan inflasi belum menunjukkan penurunan yang signifikan.

“Kita lihat bahwa salah satu pejabat bank sentral AS, Hammack, mengatakan mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak mereda. Artinya, kemungkinan besar masih ada peluang kenaikan suku bunga satu kali pada tahun 2026,” ujarnya.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen perusahaan dan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo turut meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.

Dia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat dan pelaku usaha yang mulai mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valuta asing sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak pasar.

Menurut Ibrahim, pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dan melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar.

Salah satunya dengan memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama komoditas impor yang terdampak pelemahan rupiah, serta memperkuat program bantuan sosial yang tepat sasaran.

Selain itu, pemerintah juga didorong mempercepat penguatan sektor riil melalui industrialisasi, pengembangan ekonomi biru, dan peningkatan produktivitas sektor pertanian guna memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Karena pembentukan pertumbuhan ekonomi sekitar 50 persen berasal dari daya beli masyarakat,” tuturnya.

Ibrahim menambahkan transformasi digital dan penyederhanaan regulasi investasi juga perlu dipercepat untuk menarik lebih banyak investasi asing ke Indonesia.

Menurut dia, membaiknya iklim investasi akan memperkuat fundamental ekonomi nasional dan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.

Dengan berbagai tekanan eksternal yang masih berlangsung, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan geopolitik global, harga energi dunia, serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *