RISKS.ID – BMKG memperkirakan musim kemarau akan semakin mendominasi wilayah Indonesia dalam beberapa pekan mendatang seiring menguatnya fenomena El Niño di Samudra Pasifik. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh indeks Niño 3.4 yang mencapai +1,24 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -25,8, yang secara umum berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di banyak wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan masih berpotensi terjadi akibat pengaruh dinamika atmosfer yang masih aktif.
Data pemantauan BMKG menunjukkan sebagian wilayah telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan durasi cukup panjang. Tercatat sekitar 11 persen titik pengamatan berada pada kategori HTH panjang, sementara 2 persen lainnya masuk kategori sangat panjang. Di sisi lain, suhu udara maksimum di beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Lampung, Sumatra Utara, dan Kalimantan Timur masih mencapai lebih dari 35 derajat Celsius sehingga meningkatkan risiko cuaca panas pada siang hari.
BMKG menjelaskan, peluang hujan tetap muncul karena dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial. Selain itu, kondisi atmosfer yang labil di sejumlah wilayah masih mendukung pembentukan awan hujan, terutama di kawasan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Memasuki Juli hingga Agustus 2026, musim kemarau diperkirakan semakin meluas. BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus dengan cakupan hampir setengah wilayah Indonesia. Kendati demikian, prakiraan cuaca untuk beberapa hari ke depan masih menunjukkan potensi hujan ringan hingga lebat di sejumlah provinsi. Masyarakat juga diminta mewaspadai angin kencang yang diperkirakan terjadi di berbagai wilayah, termasuk sebagian Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak lengah terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba meski telah memasuki musim kemarau. Warga diharapkan rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pohon tumbang, banjir lokal, sambaran petir, maupun risiko dehidrasi akibat suhu udara yang tinggi. Langkah antisipasi sejak dini dinilai penting untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem terhadap aktivitas sehari-hari.






