RISKS.ID — Lonjakan transaksi selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) tak hanya membawa berkah, tapi juga celah kejahatan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang kerap marak di momen libur panjang.
Tingginya mobilitas masyarakat dan intensitas penggunaan layanan digital dinilai rawan dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk melancarkan kejahatan perbankan.
Direktur Information Technology (IT) BRI Saladin D. Effendi mengingatkan nasabah agar tidak lengah terhadap beragam modus penipuan yang kerap muncul saat Nataru. Modus tersebut antara lain penawaran hadiah palsu, promo fiktif, pembayaran pajak abal-abal, hingga tautan mencurigakan yang menyerupai situs resmi perbankan.
“Masyarakat juga kami imbau berhati-hati apabila menggunakan jaringan publik atau koneksi WiFi di tempat umum,” kata Saladin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Saladin menegaskan, langkah paling mendasar yang harus dilakukan nasabah adalah menjaga kerahasiaan data perbankan. Dia menjelaskan bahwa BRI tidak pernah meminta data sensitif seperti PIN, password, one time password (OTP), maupun kode verifikasi melalui telepon, pesan singkat, email, atau media sosial.
“Jika ada pihak yang mengatasnamakan BRI dan meminta data rahasia, dapat dipastikan itu adalah penipuan. Kami mengimbau nasabah untuk tidak merespons dan segera melakukan konfirmasi melalui kanal resmi BRI,” tegasnya.
BRI juga mengimbau nasabah agar selalu bertransaksi melalui kanal resmi, seperti aplikasi BRImo yang diunduh dari platform resmi, serta menggunakan ATM, CRM, dan AgenBRILink yang terpercaya. Penggunaan jaringan internet publik yang tidak aman saat bertransaksi digital juga disarankan untuk dihindari guna meminimalkan risiko kebocoran data.
Selain itu, nasabah diminta rutin melakukan pengecekan transaksi. Dengan mengaktifkan notifikasi transaksi dan memantau mutasi rekening secara berkala, potensi transaksi mencurigakan bisa lebih cepat terdeteksi.
Di sisi kesiapan layanan, BRI memastikan seluruh infrastruktur dan sistem transaksi berada dalam kondisi optimal selama periode libur Nataru. Perseroan mengoperasikan lebih dari 19.600 unit ATM dan CRM, didukung sekitar 1,19 juta AgenBRILink, lebih dari 284 ribu EDC merchant, jutaan akseptasi QRIS, serta kartu uang elektronik BRIZZI yang tersebar di seluruh Indonesia.
Saladin menegaskan, selain keandalan layanan, aspek keamanan transaksi menjadi prioritas utama perseroan, terutama saat aktivitas perbankan melonjak signifikan.
“Pada periode Nataru, aktivitas transaksi perbankan cenderung meningkat tajam. Karena itu, BRI tidak hanya memastikan kesiapan infrastruktur dan sistem IT dengan target success rate transaksi hingga 99,9 persen, tetapi juga terus mengedukasi nasabah agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan,” ujar dia.
Sebagai bentuk komitmen menjaga kepercayaan nasabah, BRI juga memperkuat layanan pengaduan dan penanganan keluhan selama periode Nataru. Penguatan tim dilakukan agar setiap laporan dapat ditangani secara cepat dan tepat sesuai standar service level agreement (SLA).
Dengan kesiapan infrastruktur, penguatan sistem keamanan, serta peran aktif nasabah dalam menjaga data pribadi, BRI optimistis layanan perbankan tetap aman dan andal. Namun di tengah maraknya modus kejahatan digital, kewaspadaan nasabah tetap menjadi benteng utama agar libur akhir tahun tak berujung petaka finansial.






