RISKS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (30/4) di zona negatif setelah turun signifikan sebesar 2,03% ke posisi 6.956,80. Pelemahan ini mencerminkan tekanan jual yang cukup merata di pasar saham domestik.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi kontributor utama penurunan indeks. Emiten seperti BBRI dan BBCA mengalami koreksi yang cukup dalam, seiring meningkatnya aksi profit taking oleh pelaku pasar.
Dari sisi aliran dana, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih dalam jumlah besar. Di pasar reguler, net sell mencapai Rp 1,65 triliun, sementara secara keseluruhan pasar mencatat angka Rp 1,49 triliun.
Tekanan tidak hanya terjadi pada sektor tertentu, melainkan merata di seluruh lini industri. Sektor industri dasar menjadi yang paling tertekan dengan penurunan hampir 3%, sekaligus menjadi penyumbang pelemahan terbesar IHSG hari ini.
Meski mayoritas saham terkoreksi, beberapa emiten masih mampu mencatatkan penguatan. Saham seperti SMMA, BUMI, dan ADRO menjadi penahan laju penurunan indeks meski kontribusinya terbatas.
Sentimen global turut memengaruhi pergerakan pasar. Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan campuran, di mana Dow Jones melemah, sementara S&P 500 dan Nasdaq justru menguat.
Dari dalam negeri, kondisi makroekonomi relatif stabil. Inflasi diproyeksikan melandai ke level 2,40% secara tahunan, sementara surplus neraca perdagangan diperkirakan mengecil dibandingkan bulan sebelumnya.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah emiten justru mencatat kinerja positif. BUMI dan MEDC membukukan pertumbuhan laba yang signifikan pada kuartal pertama 2026, sementara BJBR tetap menarik perhatian investor dengan pembagian dividen tunai yang dijadwalkan dalam waktu dekat.






