RISKS.ID – Pemerintah terus mematangkan strategi pembiayaan negara. Pada Rabu, 6 Mei 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan penerbitan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond dapat terealisasi pada Juni 2026.
Dia mengungkapkan, langkah tersebut kini memasuki tahap persiapan lanjutan. Bahkan, dia mengaku telah menerima ajakan dari Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, untuk bertolak ke Tiongkok.
“Mungkin bulan depan (penerbitan Panda Bond), tetapi Pak Suminto sudah mengajak saya ke China,” kata dia kepada wartawan di Jakarta.
Menurut dia, penerbitan Panda Bond menjadi bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak bergantung pada satu sumber pendanaan saja.
Sebagai gambaran, realisasi pembiayaan anggaran hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp257,4 triliun. Angka tersebut terdiri dari pembiayaan utang sebesar Rp258,7 triliun dan pembiayaan non-utang Rp1,3 triliun.
“Kita tetap diversifikasi supaya tidak tergantung pada pembiayaan Amerika Serikat atau negara-negara Barat,” ujar dia.
Dia menilai pasar keuangan Tiongkok memiliki likuiditas yang kuat serta kapasitas besar, sehingga berpotensi menyerap instrumen utang pemerintah Indonesia. Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) yang ditawarkan juga kompetitif, yakni berkisar antara 2,3 persen hingga 2,5 persen.
Lebih lanjut, dia menyebut kepercayaan investor di Tiongkok terhadap fundamental ekonomi Indonesia cukup tinggi. Hal ini membuat penilaian pasar tidak terlalu rentan terhadap perubahan peringkat kredit.
Pemerintah juga telah menjalin komunikasi dengan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) yang menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam penerbitan Panda Bond tersebut.
“Kami sudah berhubungan dengan ICBC, mereka siap untuk menjalankan ke sana,” tutur dia.
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama bilateral, pemerintah Indonesia juga membuka peluang bagi Tiongkok untuk menerbitkan surat utang di pasar domestik. Skema ini diharapkan dapat memberikan akses bagi investor Indonesia terhadap instrumen keuangan Tiongkok.
Opsi tersebut dibahas dalam pertemuan antara Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dengan Menteri Keuangan Tiongkok, Lan Fo’an, di sela agenda IMF-World Bank Spring Meetings 2026 yang berlangsung pada 13–17 April 2026 di Washington, DC, Amerika Serikat.
Menurut dia, langkah ini tidak hanya memperluas sumber pembiayaan, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang lebih erat di sektor keuangan antara kedua negara.






