AKU menerima telepon itu saat sedang membeli bubur ayam dekat Jalan Stasiun Kediri.
Pagi masih terlalu awal. Pedagang baru membuka lapak. Jalanan belum ramai. Udara Kediri terasa dingin setelah hujan semalaman.
Nama “Andre Nugroho” muncul di layar ponselku.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu.
Andre adalah salah satu partner di firma hukum tempatku dulu bekerja di Jakarta. Orang yang dulu paling sering bersamaku menghadapi sidang besar, negosiasi politik, dan perkara-perkara yang nilai uangnya terlalu besar untuk dibayangkan orang biasa.
Aku memandang layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.
“Halo.”
“Bangsat. Akhirnya hidup juga lu.”
Aku tertawa kecil.
“Masih.”
“Masih di Kediri Bro?”
“Iya.”
Andre mendengus.
“Lu betah banget ngilang.”
Aku tidak menjawab.
Karena sebenarnya aku tidak sedang menghilang.
Aku cuma sedang mencoba menjadi manusia lagi.
Suara Andre kemudian berubah serius.
“Wan, gue ada perkara gede.”
Aku langsung diam.
Nada seperti itu selalu berarti uang besar. Nama besar. Risiko besar.
“Ada pejabat kementerian kena kasus korupsi,” katanya pelan. “Ditangkap Kejaksaan kemarin malam.”
Aku bersandar di kursi plastik warung bubur.
“Terus?”
“Tim mereka nyari lawyer.”
Aku sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
“Dan?”
“Mereka minta lu gabung.”
Aku tertawa kecil tanpa suara.
Jakarta memang lucu.
Kota itu bisa membencimu hari ini dan membutuhkanmu kembali besok pagi.
“Mereka tahu gue udah keluar.”
“Karena nama lu masih kuat.”
Aku menatap jalan yang mulai ramai perlahan.
Seorang anak sekolah melompat kecil menghindari genangan air.
Dua orang tua berjalan sambil membawa tas pasar.
Kehidupan kecil yang tenang.
Sangat jauh dari ruang sidang dan permainan kekuasaan yang dulu mengelilingiku setiap hari.
“Honornya gede,” lanjut Andre. “Dan ini bisa bikin nama lu naik lagi.”
Naik lagi.
Kalimat itu terdengar aneh sekarang.
Dulu mungkin aku akan langsung menerima.
Karena dulu hidupku hanya tentang menang.
Tentang uang.
Tentang kekuasaan.
Tentang menjadi orang penting.
Sampai akhirnya semua itu menghancurkanku sendiri.
“Aku nggak bisa Ndre,” kataku pelan.
Andre terdiam beberapa detik.
“Lu serius?”
“Iya.”
“Wan, ini kesempatan balik.”
“Aku nggak pengen balik.”
“Lu mau ngabisin hidup di Kediri?”
Aku tersenyum sinis.
Entah kenapa pertanyaan itu justru membuatku tenang.
“Kayaknya… iya.”
Andre mengembuskan napas kasar.
“Lu berubah bangsat, gue kecewa ama lu.”
“Mungkin.”
Setelah telepon ditutup, aku duduk cukup lama di warung itu.
Bubur ayamku bahkan mulai dingin.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar memilih hidupku sendiri.
Sore harinya aku menemui Mariyani di rumahnya.
Dia sedang melipat pakaian di ruang tengah sementara anak-anaknya menonton kartun.
“Aku tadi ditelepon Andre,” kataku sambil duduk di lantai.
Mariyani mengangkat wajah.
“Teman kantormu?”
Aku mengangguk.
“Ada kasus besar di Jakarta.”
Mariyani menunggu.
“Mereka ngajak aku gabung lagi.”
Tangannya berhenti melipat baju.
“Terus?”
“Aku nolak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Mariyani menatapku cukup lama sampai aku mulai merasa aneh.
“Kamu nolak?” tanyanya pelan.
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku mengangkat bahu kecil.
“Aku capek hidup kayak dulu.”
Dia tersenyum tipis.
Tapi bukan senyum hangat yang biasa kulihat.
“Kamu serius, Wan?”
“Iya.”
“Tahu nggak sih berapa banyak orang pengen ada di posisi kamu?”
“Aku tahu.”
“Terus kamu lepas begitu aja?”
Aku mulai bingung melihat nada suaranya.
“Mari…”
“Kamu bilang hidupmu hancur.”
Aku diam.
“Kamu bilang pengen bangkit lagi.”
“Iya.”
“Terus sekarang waktu kesempatan datang, kamu malah lari?”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang dia kira.
Aku menatapnya pelan.
“Aku nggak lari.”
“Lalu apa?”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena aku sendiri belum sepenuhnya bisa menjelaskan.
Yang kutahu, aku tidak ingin kembali menjadi manusia yang dulu.
Manusia yang kehilangan keluarganya sendiri demi ambisi yang tidak pernah selesai.
“Aku cuma pengen hidup tenang,” kataku akhirnya.
Mariyani tertawa kecil.
Pahit.
“Hidup nggak bisa cuma pakai tenang, Wan.”
Aku mulai merasa ada sesuatu yang salah.
“Maksudmu?”
Dia menatapku lurus.
“Kamu pikir anak-anakmu butuh ayah yang tenang atau ayah yang bisa bangkit?”
Aku seperti ditampar.
Ruangan mendadak terasa sempit.
“Aku capek lihat kamu nyerah sama hidup.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Karena selama ini, justru Mariyani yang selalu membuatku merasa tidak gagal sepenuhnya.
Tapi sekarang perempuan itu malah menatapku seperti seseorang yang kecewa.
“Aku nggak nyerah.”
“Tapi kamu takut Wan.”
Aku berdiri perlahan.
“Mari.”
“Kalau semua orang berhenti setelah jatuh, nggak akan ada yang bisa berdiri lagi.”
Anak-anaknya masih menonton televisi tanpa mengerti apa-apa.
Sementara aku dan Mariyani saling diam dalam jarak yang tiba-tiba terasa jauh.
Malam itu aku pulang dengan kepala penuh kekacauan.
Dan sejak malam itu, Mariyani berubah.
Pesan WhatsApp-ku hanya dibaca.
Tidak dibalas.
Aku menelepon berkali-kali.
Tidak diangkat.
Hari kedua aku datang ke rumahnya.
Pintu tertutup.
Lampu ruang tengah menyala.
Aku tahu dia ada di dalam.
Aku bahkan mendengar suara televisi kecil dari rumah itu.
“Mari…” panggilku pelan dari depan pagar.
Tidak ada jawaban.
“Aku cuma mau ngomong.”
Sunyi.
Aku berdiri cukup lama di depan rumah itu sampai tetangganya mulai memperhatikan.
Tetap tidak ada jawaban.
Hari ketiga masih sama.
WhatsApp-ku hanya centang biru.
Aku mulai sulit tidur lagi.
Kembali berjalan sendirian di Jalan Stasiun setiap malam.
Lampu-lampunya masih indah.
Musik jalanan masih terdengar hangat.
Tapi untuk pertama kali sejak bertemu Mariyani, tempat itu terasa dingin sekali.
Dan aku baru sadar…
Ternyata kehilangan seseorang tidak selalu dimulai saat mereka pergi.
Kadang dimulai saat mereka masih ada, tapi tak lagi mau membuka pintu untuk kita.
Bersambung…………..






