SORE itu, hujan turun di Kota Kediri.
Bukan hujan deras.
Hanya gerimis panjang yang membuat langit tampak muram seperti luka lama yang belum kering.
Di rumah keluarga Tan, suasana makan malam terasa hening.
Livia duduk di meja makan bersama Mei Lin dan Tan Hok Liang. Kevin belum pulang dari Surabaya.
Suara sendok beradu pelan dengan mangkuk keramik.
Tak ada percakapan.
Sudah hampir dua minggu sejak kepulangan Livia, dan meski rumah itu kembali ramai oleh keberadaannya, ada sesuatu yang tetap terasa retak.
Terutama sejak Tan Hok Liang mulai sadar, Arga kembali hadir dalam hidup putrinya.
“Aku lihat kamu keluar lagi tadi malam.”
Suara Tan Hok Liang memecah kesunyian.
Livia berhenti makan.
“Cuma jalan.”
“Sama siapa?”
Livia mengangkat wajah perlahan.
Ia lelah berbohong.
“Arga.”
Sendok di tangan Mei Lin berhenti bergerak.
Sementara wajah Tan Hok Liang langsung mengeras.
“Papa pikir semua itu sudah selesai.”
“Yang selesai cuma jaraknya.”
“Livia.”
Nada suara lelaki tua itu mulai berat.
“Kamu masih belum ngerti kenapa Papa kirim kamu pergi dulu?”
Livia tertawa kecil hambar.
“Oh aku ngerti.”
“Kalau ngerti, kamu enggak akan ulangi lagi.”
“Yang aku ulangi cuma mencintai orang yang sama.”
BRAK.
Tan Hok Liang meletakkan sumpit cukup keras.
“Kamu pikir cinta cukup buat hidup?”
“Setidaknya lebih baik daripada hidup dalam ketakutan terus.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak dingin.
Mei Lin langsung menatap putrinya khawatir.
Namun Livia tidak berhenti.
“Papa benci Arga bahkan sebelum kenal dia.”
“Aku kenal orang seperti dia.”
“Enggak. Papa cuma kenal trauma Papa sendiri.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Livia melihat sesuatu di mata ayahnya selain marah.
Ketakutan.
Ketakutan yang sangat tua.
Malam itu Tan Hok Liang tidak tidur.
Ia duduk sendirian di ruang kerja belakang toko sambil memandangi hujan dari jendela kecil.
Lampu meja menerangi wajahnya yang mulai renta.
Di atas meja ada buku rekening lama.
Foto keluarga.
Dan sebungkus rokok yang sebenarnya sudah lama berhenti ia sentuh.
Tangannya gemetar kecil saat mengambil satu batang.
Namun sebelum sempat menyalakannya, suara pintu terdengar.
Mei Lin masuk perlahan.
“Kamu mulai lagi?”
Tan Hok Liang terdiam.
Mei Lin duduk di depannya.
“Kamu capek ya?”
Tan Hok Liang tertawa kecil tanpa humor.
“Anak kita mulai benci sama aku.”
“Dia enggak benci.”
“Dia pikir aku monster.”
Mei Lin menatap suaminya lama.
Lalu berkata pelan, “Karena kamu enggak pernah cerita semuanya.”
Wajah Tan Hok Liang langsung berubah diam.
Tatapannya turun ke meja.
Dan di sanalah semuanya mulai kembali.
Saat itu, tahun 1964.
Kediri panas.
Bukan karena cuaca.
Tetapi karena amarah.
Tan Hok Liang masih berusia muda waktu itu.
Toko tekstil keluarga mereka sedang berkembang pesat. Pecinan ramai. Orang-orang masih saling menyapa tanpa curiga.
Sampai suatu malam semuanya berubah.
Kerusuhan pecah.
Awalnya hanya kabar dari kota lain.
Lalu teriakan di pasar.
Lalu massa.
Tan Hok Liang masih ingat suara kaca pecah pertama kali.
BRAK.
Lalu teriakan orang-orang.
“Bakar!”
“Jarah!”
Malam itu pecinan berubah menjadi petaka.
Orang-orang berlari.
Pintu toko ditutup paksa.
Anak-anak menangis.
Tan Hok Liang muda berdiri gemetar di depan toko ayahnya sambil memegang kayu.
Ia mendengar langkah massa semakin dekat.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar takut mati.
“A Liang! Masuk!”
Ayahnya menariknya ke dalam rumah.
Tetapi sudah terlambat.
Batu mulai menghantam rolling door.
Kaca pecah.
Seseorang mencoba membakar bagian depan toko.
Asap mulai masuk.
Ibunya menangis sambil memeluk adiknya.
Dan di tengah kekacauan itu, Tan Hok Liang percaya satu hal,
Mereka akan dibunuh malam itu.
Lalu seseorang datang.
Pak Sastro.
Masih muda.
Tubuhnya lebih kurus.
Bajunya basah oleh hujan dan lumpur.
Ia menerobos masuk lewat pintu belakang sambil berteriak, “Cepat ikut saya!”
Ayah Tan Hok Liang membeku.
“Keluar sekarang sebelum massa balik lagi!”
Di belakangnya ada beberapa warga kampung lain.
Orang-orang pribumi.
Orang-orang yang selama ini dianggap “berbeda.”
Namun malam itu mereka datang membantu.
Pak Sastro membawa keluarga Tan melewati gang belakang sempit menuju rumah kecilnya di pinggir sungai.
Tan Hok Liang masih ingat bagaimana ibunya menangis sepanjang jalan.
Bagaimana ayahnya gemetar ketakutan.
Dan bagaimana Pak Sastro berdiri di depan pintu rumah sambil membawa parang untuk menjaga mereka semalaman.
Di luar sana, api membakar sejumlah bangunan.
Tetapi keluarga Tan selamat.
Karena seorang pribumi mempertaruhkan hidupnya untuk mereka.
“Kamu enggak pernah cerita itu ke anak-anak.”
Suara Mei Lin membawa Tan Hok Liang kembali ke masa kini.
Lelaki tua itu memejamkan mata.
“Aku enggak bisa.”
“Kenapa?”
Karena rasa takut lebih mudah dipelihara daripada rasa terima kasih.
Namun Tan Hok Liang tidak sanggup mengatakannya keras-keras.
Ia hanya menatap hujan di luar.
“Aku tetap lihat orang-orang dibakar malam itu.”
Suaranya mengecil.
“Aku tetap dengar teriakan mereka.”
Mei Lin menggenggam tangan suaminya perlahan.
“Kamu selamat juga karena orang-orang yang kamu benci sekarang.”
Kalimat itu menusuk tepat ke dadanya.
Karena itulah kenyataan yang selama ini paling ia hindari.
Keesokan harinya, rahasia itu terbongkar.
Bukan lewat Tan Hok Liang.
Melainkan lewat Pak Sastro sendiri.
Siang itu Livia datang ke rumah Arga membawa makanan dari Mei Lin.
Rumah kecil itu masih sama seperti dulu.
Dinding sederhana.
Aroma kopi hitam.
Dan suara radio lawas dari dapur.
Pak Sastro sedang duduk di teras sambil membersihkan alat sablon lama.
“Om Sastro.”
“Eh, anak cantik.”
Livia tertawa kecil.
Sudah lama sekali tidak ada yang memanggilnya begitu.
Mereka mengobrol santai sampai akhirnya topik tentang Tan Hok Liang muncul.
Pak Sastro menghela napas panjang.
“Bapakmu masih keras ya?”
Livia tersenyum pahit.
“Lebih tepatnya masih benci.”
Pak Sastro diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Padahal dulu ayahmu diselamatkan orang kampung sini.”
Livia langsung membeku.
“Apa?”
Pak Sastro tampak baru sadar keceplosan.
Namun semuanya sudah terlambat.
“Ayahku… diselamatkan?”
Pak Sastro mengangguk pelan.
“Malam kerusuhan dulu.”
Dunia seperti berhenti bergerak.
Livia duduk perlahan.
Dadanya berdebar keras.
Pak Sastro akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang malam kebakaran.
Tentang rumah keluarga Tan.
Tentang bagaimana ia dan beberapa warga menyembunyikan mereka semalaman.
Dan semakin lama mendengar cerita itu, mata Livia semakin panas.
Karena tiba-tiba semua kebencian ayahnya terasa begitu tragis.
Tan Hok Liang hidup terlalu lama bersama rasa takut sampai lupa pada orang-orang yang pernah menyelamatkannya.
Malamnya, Livia pulang dengan dada penuh sesak.
Tan Hok Liang sedang duduk sendiri di ruang tengah ketika ia datang.
Livia berdiri cukup lama menatap ayahnya.
Lelaki tua itu tampak lelah.
Sangat lelah.
“Papa.”
Tan Hok Liang mengangkat wajah.
“Kenapa Papa enggak pernah cerita?”
Wajahnya langsung berubah.
“Cerita apa?”
“Kalau keluarga Arga pernah nyelametin Papa.”
Sunyi.
Panjang sekali.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Tan Hok Liang terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
Livia melangkah mendekat.
“Papa benci mereka seumur hidup… padahal Papa hidup karena mereka.”
Air mata mulai jatuh di wajahnya.
“Kenapa?”
Tan Hok Liang menunduk pelan.
Tangannya gemetar.
Lalu akhirnya suara itu keluar, rapuh dan penuh abu masa lalu.
“Karena kalau Papa berhenti membenci… berarti Papa harus mengingat semua ketakutan itu lagi.”
Livia membeku.
Dan mendadak ia mengerti sesuatu yang sangat menyakitkan,
Kadang manusia mewariskan kebencian bukan karena mereka jahat.
Tetapi karena mereka terlalu takut menghadapi luka yang belum sembuh.
Bersambung…………….
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






