KERETA Api Gajayana tiba terlalu pagi di Kota Kediri. Langit bahkan belum benar-benar terang ketika aku turun sambil menenteng tas ransel hitam dan koper kecil yang rodanya sudah mulai miring ke kiri.
Udara Kediri selalu seperti itu. Dingin tipis yang tidak menusuk, tapi cukup untuk membuat seseorang merasa sedang pulang.
Sudah hampir sebelas tahun aku meninggalkan kota ini.
Sebelas tahun yang terasa seperti hidup orang lain.
Dulu aku pergi dengan kepala penuh ambisi. Anak kampung yang percaya bahwa Jakarta adalah satu-satunya tempat untuk menjadi besar. Dan mungkin aku memang berhasil. Aku menjadi lawyer di firma hukum ternama. Tinggal di apartemen tinggi yang jendelanya menghadap cahaya yang tak pernah tidur. Memiliki istri cantik. Dua anak yang sehat.
Hidupku tampak sempurna.
Sampai aku bertemu Deborah.
Kadang kehancuran tidak datang seperti gempa. Tidak gaduh. Tidak langsung merobohkan segalanya.
Ia datang seperti retakan kecil di dinding rumah. Tidak terasa berbahaya. Sampai suatu hari, seluruh bangunan runtuh di atas kepala kita sendiri.
Aku menyeret koper keluar stasiun sambil menghela napas panjang.
Di depanku, Jalan Stasiun Kediri membentang dengan wajah yang sama sekali berbeda dari ingatanku.
Aku berhenti cukup lama.
Dulu jalan ini biasa saja. Panas, sempit, dipenuhi becak dan angkot kuning tua yang catnya mengelupas. Tapi sekarang semuanya berubah. Trotoarnya lebar dengan batu-batu berpola rapi. Lampu-lampu jalan bergaya klasik berdiri berjajar seperti potongan kota kecil di Eropa. Bangku-bangku besi dicat hitam diletakkan di beberapa sudut. Pohon-pohon tabebuya tumbuh di sepanjang sisi jalan, menyisakan warna-warna lembut di pagi hari.
Di beberapa titik, mural tentang sejarah Kota Kediri menghiasi dinding pertokoan tua.
Dan entah kenapa, suasana di sana terasa romantis.
Bukan romantis yang dibuat-buat seperti tempat wisata mahal di Jakarta. Jalan Stasiun punya jenis romantis yang sederhana. Orang-orang berjalan pelan. Ada penjual kopi yang membuka kios sambil memutar lagu lama. Sepasang anak muda duduk diam berbagi sarapan. Seorang bapak mengayuh sepeda tua sambil membawa bunga.
Kota ini seperti tidak sedang terburu-buru menjadi apa pun.
Aku mengeluarkan kamera dari tas selempangku.
Fotografi adalah satu-satunya kebiasaan yang masih tersisa dari diriku yang lama. Bahkan di masa paling kacau di Jakarta, aku masih memotret. Lorong pengadilan. Hujan di kaca apartemen. Wajah lelahku sendiri di cermin lift.
Aku memotret jalan yang masih basah oleh embun pagi.
Klik.
Seorang anak kecil berlari mengejar merpati.
Klik.
Uap kopi naik dari gelas plastik.
Klik.
Lampu jalan yang belum sepenuhnya mati.
Klik.
Aku terus berjalan sampai ujung trotoar dekat taman kecil di sisi jalan. Matahari mulai naik perlahan, memberi warna keemasan pada bangunan-bangunan tua.
Lalu aku berhenti.
Entah kenapa dadaku terasa aneh.
Aku membuka hasil jepretan di layar kamera.
Satu per satu.
Sampai di foto ketujuh, jariku mendadak diam.
Di sana, di antara keramaian pagi Jalan Stasiun, ada seorang perempuan yang berdiri membelakangi kamera.
Rambutnya sebahu.
Mengenakan cardigan abu-abu muda.
Dan wajahnya sedikit menoleh ke samping.
Aku mengenali wajah itu bahkan sebelum pikiranku sempat percaya.
Mariyani.
Aku membesarkan foto itu perlahan.
Jantungku berdegup aneh.
Sudah belasan tahun aku tidak mendengar namanya.
Teman SMA-ku.
Perempuan yang dulu selalu duduk di dekat jendela kelas dan suka menulis puisi di belakang buku LKS. Perempuan yang pernah diam-diam kusukai tapi tak pernah punya keberanian untuk kukatakan.
Aku menoleh cepat ke sekitar jalan.
Orang-orang masih berlalu-lalang.
Seorang tukang sapu lewat.
Dua mahasiswa tertawa sambil membawa sarapan.
Tapi perempuan dalam foto itu sudah tidak ada.
Aku berjalan cepat menyusuri trotoar.
Mencari cardigan abu-abu.
Mencari wajah yang tadi tertangkap kameraku.
Oh, tidak ada. Tidak kutemukan. Kemana dia.
Aku bahkan sempat masuk ke kedai kopi kecil di ujung jalan hanya untuk memastikan.
Tetap tidak ada.
Seolah ia hanya muncul di dalam foto.
Aku berdiri cukup lama di bawah lampu jalan sambil memandang layar kamera itu lagi.
Dan anehnya, untuk pertama kali setelah hidupku runtuh di Jakarta, aku merasa seperti sedang diberi alasan untuk tetap berjalan.
Meski kecil.
Meski samar.
Meski mungkin cuma kebetulan.
Bersambung…………..







Aku tunggu bagian 2 nya✌🏻