RISKS.ID – Konsistensi produksi pangan nasional dinilai menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026. Di tengah ketidakpastian pangan global, sektor pertanian disebut masih menjadi salah satu bantalan utama perekonomian nasional.
Ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati mengatakan pasokan dan produksi pangan, khususnya beras, memiliki pengaruh besar terhadap kestabilan ekonomi nasional.
“Pasokan pangan dan produksi khususnya beras sangat mempengaruhi stabilitas. Karena itu konsistensinya perlu dijaga,” kata Ninasapti dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (9/5).
Menurut dia, di tengah tekanan pangan dunia dan ketidakpastian global, sektor pertanian tetap memiliki peran strategis melalui penguatan produksi, stabilitas pasokan, serta pengendalian harga pangan di dalam negeri.
Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi nasional, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, sektor pertanian menjadi salah satu sumber pertumbuhan utama dengan kontribusi mencapai 1,11 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Ninasapti menilai capaian tersebut menunjukkan sektor pertanian memiliki posisi penting dalam menopang ekonomi nasional karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menjadi salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar.
Dia menekankan konsistensi produksi pangan perlu dijaga hingga akhir 2026 agar sektor pertanian mampu mempertahankan perannya seperti yang terlihat sepanjang 2025, baik dalam menjaga stabilitas ekonomi maupun mengendalikan inflasi pangan.
Menurut dia, komoditas pangan memiliki pengaruh besar terhadap inflasi nasional karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat. Karena itu, keberhasilan menjaga produksi dan pasokan pangan domestik dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga daya beli masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan. Di tengah kenaikan harga secara umum tersebut, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Deflasi itu dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan pasokan pangan domestik yang relatif terjaga sehingga mulai memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga pangan nasional.
Ninasapti kembali menegaskan keberhasilan menjaga pasokan dan produksi beras nasional sangat berpengaruh terhadap kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat.
“Pasokan beras dan juga dari sisi produksi sangat mempengaruhi stabilitas. Saya kira ini perlu dijaga dengan baik,” katanya.
Dia menambahkan swasembada beras menunjukkan besarnya peran sektor pangan dalam menopang kondisi ekonomi nasional. Menurut dia, komoditas beras memiliki andil signifikan dalam pengendalian inflasi karena menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
“Beras itu andilnya sangat besar dalam mengendalikan inflasi. Artinya ini menunjukkan peran makanan dan minuman yang sangat besar,” ujarnya.
Ninasapti juga mengapresiasi kerja keras petani serta dukungan pemerintah dalam memperkuat produksi pangan nasional. Dia menilai keberhasilan menjaga swasembada beras tidak hanya berdampak terhadap stabilitas harga, tetapi juga membuka peluang kerja yang luas di sektor pertanian.
“Yang jelas beras sudah swasembada. Lapangan pekerjaan di pertanian masih terbuka lebar. Dalam beberapa tahun terakhir minat anak muda terjun ke sektor pertanian juga masih cukup besar,” tuturnya.
Saat ini, cadangan beras pemerintah disebut telah mencapai lebih dari 5 juta ton yang tersimpan di berbagai gudang Perum Bulog di sejumlah daerah. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus mengantisipasi gejolak pasar global.
“Saya kira hari-hari ini sektor yang memiliki kekuatan pada bangsa kita adalah sektor pertanian,” kata Ninasapti.






