SETELAH malam itu, aku mulai terbiasa dengan kehadiran Mariyani dalam hidupku.
Bukan kehadiran yang gaduh.
Bukan yang memaksa masuk.
Dia hadir pelan-pelan. Seperti lampu jalan di Jalan Stasiun Kediri yang menyala satu per satu saat malam turun.
Tenang.
Tapi membuat gelap terasa tidak terlalu menakutkan.
Kami masih sering bertemu di kafe dekat stasiun. Kadang hanya duduk tanpa banyak bicara. Kadang berjalan kaki cukup jauh sambil mendengarkan kota kecil itu bernapas pelan di malam hari.
Dan aku mulai merasa hidupku bergerak lagi.
Meski lambat.
Meski tertatih.
Sampai suatu pagi, pesan darinya tidak datang.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkan.
Biasanya dia mengirim pesan setelah mengantar anak-anak sekolah.
Sudah sarapan?
Atau sekadar foto langit pagi dari depan rumahnya.
Tapi hari itu tidak ada apa-apa.
Aku mengirim pesan lebih dulu.
Lagi sibuk?
Tidak dibalas.
Aku pikir mungkin dia ketiduran.
Atau sedang banyak pekerjaan di rumahnya.
Tapi malamnya tetap tidak ada kabar.
Besoknya juga begitu.
Hari ketiga, aku mulai gelisah.
Aku beberapa kali membuka WhatsApp hanya untuk melihat foto profilnya yang masih sama. Foto dia dan kedua anaknya di pinggir Sungai Brantas.
Online terakhir dua hari lalu.
Aku mencoba menelepon.
Tidak aktif.
Aku memutuskan mendatangi rumahnya sore itu.
Rumah kecil bercat hijau muda. Ada tanaman bunga di depan teras dan sepeda anak kecil bersandar dekat pintu.
Kursi kayu panjang terpajang kosong di teras itu.
Tapi rumah itu terkunci.
Tetangganya bilang sudah beberapa hari tidak melihat Mariyani pulang.
“Apa dia pergi keluar kota?” tanyaku.
Ibu-ibu itu menggeleng.
“Nggak tahu, Mas.”
Perasaanku mulai terasa tidak enak.
Ketakutan menyeruak di hatiku.
Malamnya aku berjalan sendiri di Jalan Stasiun.
Lampu-lampu jalan tetap cantik seperti biasa. Orang-orang masih tertawa di kafe. Musik akustik tetap terdengar hangat dari sudut trotoar.
Tapi malam itu semuanya terasa asing.
Aku baru sadar, kota ini menyenangkan karena beberapa minggu terakhir aku melihatnya bersama Mariyani.
Tanpa dia, Kediri mendadak terasa sepi lagi.
Hari kelima.
Aku hampir tidak tidur semalaman.
Pagi itu Reno meneleponku.
Suaranya terdengar ragu.
“Wan… kamu tahu Mariyani di rumah sakit?”
Darahku seperti berhenti mengalir sesaat.
“Apa?”
“Dia kecelakaan.”
Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi di kamar kosku jatuh ke belakang.
“Kecelakaan apa?”
“Katanya habis jemput anaknya. Ditabrak motor dari samping.”
Aku bahkan tidak ingat bagaimana caraku sampai ke rumah sakit pagi itu.
Semua terasa kabur.
Jalanan.
Lampu merah.
Suara klakson.
Aku hanya terus berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit Baptis dengan napas berantakan.
Dan ketika akhirnya melihat Mariyani di ruang rawat, langkahku mendadak melambat.
Dia tidur.
Wajahnya pucat.
Ada perban di pelipis kanannya.
Tangan kanannya dipasang infus.
Untuk beberapa detik aku hanya berdiri diam di depan pintu.
Dadaku sesak oleh rasa takut yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Bahkan saat rumah tanggaku hancur dulu, aku tidak merasa setakut ini.
Seorang perempuan setengah baya yang duduk di dekat ranjang menoleh kepadaku.
“Mau cari Mbak Mariyani?”
Aku mengangguk pelan.
“Saya sepupunya,” katanya lirih. “Panjenengan temannya?”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena tiba-tiba aku tidak tahu harus menyebut diriku apa.
Teman?
Sahabat?
Atau seseorang yang diam-diam mulai takut kehilangan dia.
“Ya,” jawabku akhirnya pelan. “Saya temannya.”
Perempuan itu menjelaskan bahwa kecelakaannya sebenarnya tidak terlalu parah, tapi Mariyani sempat pingsan dan harus dirawat beberapa hari karena benturan di kepala.
“Ponselnya rusak,” katanya lagi. “Makanya nggak bisa kabarin siapa-siapa.”
Aku mengangguk pelan.
Lalu duduk di kursi dekat ranjang.
Kugenggam tangannya. Terasa dingin.
Tanpa sadar, tangan itu kuusapkan di pipiku.
Aku sudah tak kuat menahan genangan air di kelopak mataku yang datang seolah seperti air bah.
Aku benar-benar ketakutan. Entah takut karena apa.
Aku menatap wajahnya, lama sekali.
Baru kali itu aku sadar, ternyata seseorang bisa menjadi sangat penting tanpa kita sadari kapan tepatnya itu terjadi.
Mariyani bergerak pelan beberapa menit kemudian.
Matanya terbuka perlahan.
Dan hal pertama yang dia lihat adalah aku.
Dia tampak bingung sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Wan…”
“Kamu kok kusut banget?”
Aku menghembuskan napas panjang.
Lima hari terakhir rasanya seperti bertahun-tahun.
“Kamu ngilang lima hari,” kataku lirih.
“Maaf.”
“Kamu bikin aku takut.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Jujur.
Tanpa sempat kutahan.
Mariyani menatapku diam-diam.
Dia berusaha memahami gejolak hatiku.
Lalu pelan sekali, dia berkata,
“Aku nggak ke mana-mana, Wan.”
Aku menunduk sambil menahan mata yang semakin basah.
Mariyani mengusap air mataku yang akhirnya jatuh.
“Aku nggak apa-apa. Terima kasih sudah datang.”
Dan pagi itu, di tengah bau obat dan suara langkah perawat rumah sakit, aku akhirnya mengerti sesuatu.
Kadang seseorang tidak datang untuk memperbaiki hidup kita.
Mereka datang hanya untuk membuat kita ingin hidup lebih lama.
Bersambung…………






