NOVEL HITAM DAN PUTIH: Waktu Mengubah Segalanya (Bagian – 10)

novel hitam dan putih

WAKTU bergerak tanpa meminta izin kepada siapa pun.

Tahun demi tahun lewat begitu saja.

Bacaan Lainnya

Pecinan Kediri perlahan berubah menjadi lebih modern. Beberapa toko tua direnovasi menjadi ruko baru. Anak-anak muda mulai lebih sering bicara bahasa Indonesia daripada dialek keluarga mereka sendiri.

Dan Arga, tidak lagi hanya dikenal sebagai anak tukang sablon.

Namanya mulai muncul di koran nasional.

Novel keduanya sukses.

Undangan seminar datang dari berbagai kota.

Bahkan motor tuanya akhirnya diganti.

Walaupun Bimo masih sering mengejeknya.

“Penulis terkenal tapi masih nongkrong di warung kopi receh.”

Arga tertawa sambil mengaduk kopi hitamnya.

“Biar enggak lupa miskin.”

Namun di balik semua perubahan itu, ada sesuatu dalam diri Arga yang tetap sama.

Ia masih sulit melupakan Livia.

Walaupun sekarang rasa itu tidak lagi membakar seperti dulu.

Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang.

Lebih dalam.

Seperti luka lama yang sudah menyatu dengan tubuh.

“Mas Arga.”

Suara perempuan itu membuat Arga menoleh.

Nadia, nama perempuan itu, berdiri di depan meja sambil tersenyum kecil.

Ia editor dari penerbit Jakarta yang bekerja sama dengan Arga selama dua tahun terakhir.

Perempuan itu cerdas.

Berkerudung.

Tenang.

Dan selalu tahu cara menghadapi mood Arga yang kadang berantakan.

“Kamu belum makan dari tadi.”

Arga mengangkat alis.

“Kamu perhatian banget.”

“Takut penulis andalan kami mati kelaparan.”

Mereka tertawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga mulai membuka dirinya pada orang lain.

Nadia tidak seperti Livia.

Tidak cerewet.

Tidak impulsif.

Tidak membawa hujan ke hidupnya.

Tetapi bersama Nadia, semuanya terasa stabil.

Dewasa.

Pak Sastro bahkan pernah berkata, “Yang ini bikin hidupmu lebih tenang.”

Arga hanya tersenyum kecil waktu itu.

Karena ia sendiri belum tahu, apakah cinta memang harus selalu tenang?

Di California, hidup Livia juga berubah.

Ia lulus kuliah dengan nilai baik.

Mulai bekerja di galeri desain interior milik kenalan keluarga.

Dan perlahan terbiasa hidup di Amerika.

Logat Indonesianya mulai berubah sedikit.

Ia mulai lebih sering memakai bahasa Inggris tanpa sadar.

Dan beberapa kenangan tentang Kediri mulai terasa seperti mimpi lama.

Tetapi ada satu hal yang tetap bertahan, Arga.

Mereka masih sesekali berkirim pesan.

Kadang jaraknya berbulan-bulan.

Kadang hanya satu email pendek.

Namun setiap pesan selalu berhasil membuka kembali bagian hati yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Hubungannya dengan Daniel Huang juga berubah.

Daniel tidak pernah memaksa.

Ia tetap datang.

Tetap menemani.

Tetap sabar.

Dan setelah bertahun-tahun, keluarga besar mulai menganggap hubungan mereka sebagai sesuatu yang pasti.

“Daniel serius sama kamu,” kata Bibi Clara suatu malam.

Livia diam sambil memotong makanan.

“Kalian cocok.”

Kata itu lagi.

Cocok.

Livia kadang bertanya-tanya, berapa banyak hidup manusia dihancurkan oleh kata itu.

Musim gugur tahun itu, Daniel akhirnya melamar.

Bukan dengan cara dramatis.

Hanya makan malam di restoran kecil dengan lampu hangat dan musik piano pelan.

Daniel mengeluarkan cincin kecil lalu berkata,

“Aku capek kalah sama seseorang yang bahkan enggak ada di sini.”

Livia membeku.

Daniel tersenyum tipis.

“Tapi aku tetap mau coba.”

Mata Livia perlahan basah.

Karena Daniel memang lelaki baik.

Dan justru itu yang membuat semuanya semakin sulit.

“Aku enggak mau jadi pelarian,” lanjut Daniel pelan.

Sunyi cukup lama.

Lalu akhirnya Livia berkata lirih, “Aku takut.”

Daniel mengangguk pelan.

“Aku juga.”

Pada akhirnya, Livia tidak langsung menjawab.

Tetapi ia juga tidak menolak.

Dan itu cukup membuat keluarga besar mulai sibuk membicarakan rencana pernikahan.

Di Indonesia, Arga mendengar kabar itu dari Kevin.

Ironisnya, justru Kevin yang mengirim email singkat padanya.

Livia akan menikah tahun depan.

Sudahi semuanya.

Arga membaca email itu dalam diam.

Tidak marah.

Tidak menangis.

Hanya kosong.

Malam itu ia duduk sendirian di teras rumah sambil memandangi hujan Kediri yang turun pelan.

Pak Sastro keluar membawa dua gelas kopi.

“Kabar buruk?”

Arga tersenyum kecil.

“Mungkin.”

Pak Sastro duduk di sampingnya.

“Masih tentang perempuan itu?”

Arga mengangguk pelan.

Hening beberapa saat.

Lalu Pak Sastro berkata, “Kadang hidup memang tidak mengirimkan kita seseorang yang paling kita mau.”

Arga menatap hujan.

“Terus?”

“Tapi kasih orang yang bisa tinggal.”

Kalimat itu membuat Arga langsung teringat Nadia.

Perempuan yang selama ini diam-diam selalu ada di dekatnya.

Yang tidak pernah meminta apa pun.

Tidak pernah memaksa.

Dan selalu menerima sisi buruknya.

Untuk pertama kalinya, Arga mulai berpikir, mungkin hidup memang harus terus berjalan.

Beberapa minggu kemudian, Arga mengajak Nadia makan malam.

Restoran kecil dekat Alun-Alun Kota Kediri.

Hujan baru saja reda.

“Kamu aneh hari ini,” kata Nadia sambil tersenyum kecil.

“Aneh gimana?”

“Kayak orang mau ngomong penting.”

Arga tertawa pelan.

Mereka berbicara lama malam itu.

Tentang pekerjaan.

Tentang hidup.

Tentang masa depan.

Dan di satu momen sunyi, Arga sadar, ia nyaman bersama Nadia.

Nyaman dengan cara yang berbeda dari Livia.

Tidak meledak-ledak.

Tenang.

Tetapi hangat.

Sementara itu di California, Livia mulai tenggelam dalam persiapan pernikahan yang bahkan belum benar-benar ia yakini.

Gaun.

Gedung.

Daftar tamu.

Semua terasa seperti hidup orang lain.

Suatu malam, Livia merasa rindu kepada Arga.

Itu terjadi saat Livia menemukan gelang pemberian Arga di tas kosmetiknya.

Gelang tanda cinta abadi. Bergambar dua hati yang saling terikat.

Gelang itu bertalikan kulit sapi yang sangat lembut.

Hatinya bergetar.

Livia kemudian beranjak membuka laptop untuk mencari file rahasia miliknya.

Di situlah, dia menemukan folder email lama bersama Arga.

Napasnya langsung terasa sesak.

Ia membaca satu per satu pesan mereka.

Tentang hujan.

Tentang Kediri.

Tentang rindu yang tidak pernah selesai.

Lalu tanpa berpikir panjang, Livia menekan tombol video call.

Tangannya langsung dingin.

Karena setelah bertahun-tahun, mereka belum pernah saling melihat lagi.

Nada sambung terdengar panjang.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu layar bergerak.

Dan Arga muncul.

Koneksi internet buruk membuat gambar sedikit pecah.

Namun Livia tetap langsung mengenal wajah itu.

Arga terlihat lebih dewasa sekarang.

Rahangnya lebih tegas.

Rambutnya sedikit lebih panjang.

Dan matanya, masih mata yang sama.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.

Terkejut.

Canggung.

Dan terlalu banyak rasa bercampur jadi satu.

Arga tersenyum kecil lebih dulu.

“Hai.”

Suara itu.

Livia langsung menahan napas.

Karena tiba-tiba semua tahun yang memisahkan mereka terasa runtuh begitu saja.

“Hai,” jawabnya pelan.

Hening lagi.

Lalu keduanya tertawa kecil bersamaan karena sama-sama gugup.

“Aku kira kamu lupa muka aku,” kata Arga.

Livia menggeleng pelan.

“Mustahil.”

Mata mereka saling memandang lewat layar kecil ribuan kilometer jauhnya.

Dan di saat itulah mereka sadar sesuatu yang menakutkan, setelah semua waktu berlalu,
setelah semua orang baru datang, setelah hidup memaksa mereka berubah.

Perasaan itu ternyata masih ada.

Dan mendalam.

 

Bersambung…………….

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *