RISKS.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mengakhiri tahap pendaftaran calon direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk masa jabatan 2026–2030. Hingga batas akhir yang ditentukan, regulator mencatat ada empat paket kandidat yang diajukan oleh pemegang saham bursa.
Setiap paket terdiri dari tujuh orang calon direksi, sehingga total terdapat 28 kandidat yang kini memasuki tahap awal evaluasi. Jumlah ini mencerminkan antusiasme sekaligus persaingan dalam memperebutkan posisi strategis di lembaga pengelola pasar modal Indonesia tersebut.
OJK menegaskan bahwa seluruh pengajuan telah melalui verifikasi administratif awal. Proses ini memastikan bahwa setiap kandidat memenuhi persyaratan dasar sebelum melangkah ke tahap seleksi berikutnya yang lebih mendalam.
Tahapan selanjutnya akan berfokus pada penilaian rekam jejak dan integritas para calon. Regulator ingin memastikan bahwa seluruh kandidat memiliki latar belakang yang bersih serta pengalaman yang relevan di sektor keuangan dan pasar modal.
Menariknya, komposisi kandidat kali ini tidak hanya berasal dari kalangan internal industri pasar modal. Sejumlah profesional dari sektor keuangan lain hingga bidang teknologi juga turut meramaikan bursa calon pimpinan BEI.
Kehadiran latar belakang yang beragam dinilai dapat membawa perspektif baru dalam pengelolaan bursa. Hal ini menjadi penting di tengah tuntutan transformasi digital dan dinamika pasar global yang semakin kompleks.
Seleksi ini mengacu pada ketentuan dalam POJK Nomor 58 Tahun 2016 yang mengatur mekanisme pencalonan direksi bursa. Dalam aturan tersebut, pemegang saham memiliki peran penting dalam mengusulkan kandidat terbaik.
Setelah lolos tahap administrasi, para calon akan menghadapi uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test). Proses ini menjadi salah satu tahapan krusial untuk menilai kompetensi, kepemimpinan, serta pemahaman strategis kandidat terhadap pasar modal.
OJK menekankan bahwa direksi terpilih nantinya harus mampu menjaga independensi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas. Kepercayaan publik menjadi faktor utama yang harus dijaga oleh pimpinan bursa.
Selain itu, direksi baru diharapkan mampu mendorong peningkatan likuiditas pasar serta memperkuat struktur perdagangan efek di Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari agenda besar pengembangan pasar modal nasional.
Penguatan infrastruktur dan adaptasi terhadap teknologi juga menjadi perhatian utama. BEI dituntut untuk terus berinovasi agar mampu bersaing di tingkat regional maupun global.
Tidak kalah penting, peningkatan partisipasi investor domestik juga menjadi target jangka panjang. OJK berharap kepemimpinan baru BEI dapat memperluas basis investor dan memperdalam pasar keuangan Indonesia secara berkelanjutan.






