RISKS.ID – PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) resmi menetapkan pembagian dividen tunai kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025. Nilai dividen yang disepakati mencapai Rp122,17 miliar atau setara Rp45 per saham.
Manajemen menyampaikan pembagian dividen tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pengembalian kepada investor dan keberlanjutan ekspansi usaha di sektor energi.
Besaran dividen dihitung menggunakan kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.378 per dolar Amerika Serikat pada 4 Mei 2026. Kebijakan ini sekaligus mempertegas komitmen RATU menjaga konsistensi distribusi keuntungan kepada pemegang saham.
Dalam agenda yang sama, pemegang saham juga menyetujui laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025. Perseroan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari auditor independen.
Sepanjang 2025, RATU mencatat laba bersih sebesar 15,2 juta dolar AS atau tumbuh 8,9 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan laba terjadi di tengah kondisi industri migas yang masih menghadapi tekanan harga dan produksi.
Di sisi lain, pendapatan perseroan mengalami penurunan 14,6 persen menjadi 49,3 juta dolar AS. Koreksi tersebut dipengaruhi berkurangnya volume lifting minyak serta fluktuasi harga komoditas global.
Untuk menjaga profitabilitas, perusahaan melakukan efisiensi operasional secara menyeluruh. Langkah itu berhasil menurunkan cost of goods sold (COGS) hingga 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Efisiensi tersebut ikut mendorong kenaikan adjusted EBITDA sebesar 2 persen menjadi 30,8 juta dolar AS. Margin EBITDA RATU juga tetap terjaga di atas level 62 persen, menunjukkan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja operasional.
Dari sisi fundamental, total aset RATU tercatat meningkat menjadi 76 juta dolar AS dengan total ekuitas sebesar 56,6 juta dolar AS. Perseroan juga mempertahankan rasio debt to equity ratio (DER) di level rendah, yakni 0,30 kali.
Kinerja RATU masih ditopang produksi dari Blok Cepu dan Blok Jabung. Kedua wilayah kerja tersebut menjadi kontributor utama produksi migas sekaligus fondasi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan bisnis pada tahun-tahun mendatang.






